Skip to main content

SEKELAS


Air mengembun di kaca jendela bus. Jalanan tampak terlihat lenggang. Ya wajarlah ini 
sudah lewat tengah malam. Meskipun begitu, laju bus yang kami tumpangi ini tidak terlalu 
terburu-buru. Para penumpang yang semuanya adalah rombongan intat linto tampak tak ada 
yang bergerak lagi. Hanya beberapa orang di bangku belakang yang masih sibuk dengan 
smartphonenya. Kami semua lelah. Setelah malam sebelumnya kami menempuh Delapan jam 
perjalanan sekarang kami dalam perjalanan kembali dalam waktu tempuh yang sama. 

 Iqbal, seorang pria yang mampu bertahan menjadi sahabat terbaikku sejak SMA, 
menyadariku masih terjaga tiba-tiba membuka sebuah pembicaraan tentang sesuatu yang lupa 
ia tanyakan sebelumnya. 

 “Si Farhan. Kamu diundang?” tanyanya tiba-tiba meruntuhkan imajinasiku tentang 
jalanan yang sunyi. 

 Undangan? Aku berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaannya. Dia sudah 
menikah? aku benar-benar sama sekali tidak tahu tentang itu. Tidak ada kabar apapun ataupun 
tidak melihat foto-foto pernikahannya di social media. Lalu seolah aku merasa dia seseorang 
yang sangat asing bagiku. Tidak pernah kenal atau tidak pernah dekat. Oh iya, memang selama 
ini kami tidak pernah saling bicara lagi dan bahkan tidak pernah berjumpa lagi. 

 Aku hening menatap Iqbal, lalu menggeleng pelan. 

 *** 

Suara klakson bersahut-sahutan. Anak-anak yang membawa motor ke sekolah mulai 
memelankan laju motornya beberapa meter sebelum disambut pintu pagar sekolah. Aku dan 
beberapa anak-anak lain yang berjalan kaki terpaksa mengambil bagian sisi jalan hingga celana 
putih abu-abu kami sedikit basah karena menyapu daun-daun padi yang bersimbah embun 
setengah bersujud ke badan jalan. 
Saat menoleh ke belakang, kusadari seseorang yang ingin sekali aku jalan bersama 
dengannya sedang bergegas menyambar pintu pagar sekolah yang hampir ditutup. Aku 
memelankan langkahku. Mencoba mensejajarkan langkahku dengannya. Memang aku tidak 
punya banyak waktu lagi untuk bicara panjang lebar, tapi untuk sekedar bilang ‘Hai’ sepertinya 
cukup. 

Tampak guru killer yang sedang menunggu di pintu pagar rasanya seperti ingin melahap 
kami semua yang datang terlambat. Dalam gerakan yang lambat, juga dengan tatapan yang 
mengerikan ia menutup pintu pagarnya. Aku lolos. Dia lolos. Langkah kami sejajar. 
Alhamdulillah. 

”Hi” Sapaku. Dia menoleh dengan sebuah senyum kecil yang menghias wajahnya yang 
baru bangun dari tidur malam yang indah sekitar Tiga jam yang lalu itu.

“Hi” sapaku lagi. “Farhan kirim salam” lanjutku lagi gemetaran. Dia hanya tersenyum 
kecil. Antara malu atau tidak peduli. Entahlah, sulit kubaca gerak gerik dia. 

Kami berlalu di depan kelas Tiga IPS. Farhan yang sedang berdiri di pintu kelas 
melihatku sambil mengkode-kode sesuatu dengan mulutnya sementara aku sama sekali tidak 
mengerti, juga tidak peduli. 

Aku dan Farhan cukup dekat saat masih kelas satu. Namun ketika beranjak ke kelas 
Dua dia memilih mengutuk dirinya masuk ke IPS padahal kalau dilihat secara lahiriah 
karakternya sangat IPA sekali. Dia teman juga selaku penyambung lidah guru-guru kami jika 
ada pelajaran yang sulit ku mengerti. Dia yang mengajariku pelajaran kimia meskipun pada 
akhirnya aku sama sekali tidak jatuh cinta dengan pelajaran itu dan segala tetek bengek di 
dalamnya yang membuatku pusing, juga pelajaran-pelajaran ilmu hitung-hitungan lainnya yang 
aku ingin sekali semoga lenyap dari muka bumi. 

Aku adalah penghubung Farhan dengan semua gadis-gadis di kelasku. Memang tidak 
semua gadis yang ditaksir Farhan. Seingatku, hanya ada dua gadis yang pernah membuat 
Farhan bisa dibilang jatuh cinta. Entah cinta beneran atau sekedar cinta-cintaan anak remaja 
yang sebenarnya bukan suatu hal yang serius. Sebelumnya saat masih kelas satu, waktu 
pertama kali aku dan Farhan saling kenal, dia sempat naksir sama Yuni, cewek bersuara merdu 
ketika dia menyanyi dan melantunkan ayat-ayat suci, dia salah satu Qariah terbaik 
sekecamatan. 

Farhan sempat dibuat sangat tergila-gila pada gadis ini. Tak berhenti menatapnya, lalu 
membuang pandangannya ketika gadis itu menatap balik. Sampai-sampai Farhan memintaku 
menulis sesuatu tentang gadis ini, tentang perasaannya, dan segala hal yang berkaitan dengan 
gadis ini. 

Entah bagaimana cara kerja hati si Farhan ini ketika dengan mudahnya perasaannya 
pada gadis bersuara merdu itu dibuangnya begitu saja ketika ada seorang bidadari baru yang 
terdampar di kelas kami. Dialah Kalina, gadis paling pendiam dan paling malu-malu di muka 
bumi. Dia begitu sejuk, begitu ayu, adem dipandang dan tidak banyak bicara. Oh itulah sihirnya 
dia yang membuat lelaki di kelas kami tak mampu menangkis gejolaknya. 

Diantara semua pria yang tidak beruntung itu hanya aku yang paling dekat dengan gadis 
ini. Dia mulai sering membuka banyak pembicaraan semenjak di kelas Dua. Sementara itu 
Farhan memilih mengasingkan diri ke IPS. Meskipun begitu, tidak ada ruginya baginya karena 
dia memiliki mata-mata untuk menyambung hatinya dengan gadis ini. Tibalah saatnya bagiku 
betapa melelahkannya mendengarkan curahan isi hatinya padaku tentang gadis ini. Dimulai 
dari puji-pujian, betapa kagumnya dia pada gadis ini, hingga kirim-kiriman salam yang 
sebenarnya tidak pernah ku sampaikan. 

Bagiku, ini seperti mengulang episode-episode yang sama di cerita saat masih kelas 
satu dulu. Bedanya, waktu itu kami semua masih berada dalam satu kelas dengan si gadis 
bersuara merdu. Jadi, saat itu tidak ada kirim-kiriman salam. Kalau dia mau, dia bisa melempar 
kertas bertuliskan rindu, I love you dan segala hal yang berkaitan dengannya.

Kalina tidak terlalu menaruh hati pada Farhan. Aku bisa membaca semua itu dengan 
jelas walaupun dia tidak pernah secara gamblang mengungkapkannya padaku. Jelas sekali 
bagaimana rasa kesal melukis wajahnya ketika aku membicarakan Farhan di depannya. Lebih 
tepatnya Farhan adalah Risih terbesarnya di sekolah ini. Tapi kalau kadang-kadang Farhan 
mengajaknya bicara, Kalina cukup bagus berakting bermanis-manisan diikuti wajahnya yang 
memerah karena malu, takut atau perasaan apalah itu yang sedang bergejolak. Yang jelas itu 
bukanlah sesuatu yang baik. 

Sama seperti sebelumnya kepada si gadis bersuara merdu, perasaan Farhan kepada 
kalina pun seperti menguap ke udara begitu segala hingar bingar SMA selesai. Hanya tersisa 
sedikit. Menurut prediksiku begitu. 

 Pernah sekali saat aku bertemu Farhan di kampus, sebenarnya kami sudah jarang 
bicara, bahkan tidak pernah sejak lulus SMA, kalaupun ketemu hanya sekedar saling membalas 
senyum. Tapi kali ini Farhan mengajakku duduk dan kamipun bicara setelah sekian lama. Tiba-
tiba muncul ide untuk menelpon Kalina. Bersama Kalina di ujung telepon kami membahas hal-
hal yang tidak terlalu penting. Sesekali kami tertawa. Percayalah, dulu kami tidak pernah 
berbicara bertiga seintim ini. Tidak pernah sama sekali. Mungkin ini karena Kalina tidak sedang 
bersama kami. Jadi segala hal yang berkaitan dengan canggung-canggungan sungguh tidak 
berlaku disini. Entah bagaimana perasaan kalina di ujung telepon sana. 

Delapan tahun sejak pertemuan terakhir kami, kami tak pernah kabar-kabaran lagi. 
Farhan sepertinya telah menjelma menjadi orang yang sukses. Dia bekerja di Jakarta di sebuah 
perusahaan yang mampu menggajinya dengan nominal cukup besar setiap bulannya. Terakhir 
kudengar dari seseorang kalau dia juga sedang menulis sebuah buku. dan kabar yang baru 
saja kudengar kalau dia sudah menikah. 

Sungguh aneh rasanya saat seseorang yang dulu pernah dekat sekali denganmu tiba-
tiba menjadi orang asing. Sangat asing. Meskipun begitu, tidak ada perasaan kecewa atau 
sejenisnya yang merongrong masuk mendobrak dinding hatiku. Aku merasa biasa saja, tapi 
hanya sedikit aneh. Hati dan pikiranku digelumuti perasaan-perasaan seperti itu tapi sangat sulit 
sekali membentuk semua itu ke dalam kata-kata. 

Malam semakin larut dan laju bus yang semakin kencang. Aku masih sangat sadar saat 
yang lain telah larut dalam tidur yang tidak menyenangkan. Memperhatikan lampu-lampu jalan 
yang dari kejauhan tampak berlarian kearah bus yang kami tumpangi lalu dalam sekejap pergi 
lagi meninggalkan bus kami. Aku juga sangat suka dengan pantulan cahayanya yang tampak 
seperti riak-riak di dinding jendela.


Popular posts from this blog

SANG PENGHUNI Bagian 3 : JERITAN MALAM

Sama seperti kedua rumah sebelumnya, rumah nenekku juga rumah panggung Aceh yang sama seperti kedua rumah yang aku ceritakan sebelumnya. Rumah nenek sekarang hanya di tinggali oleh bibiku setelah kepergian nenek tujuh tahun yang lalu. Rumah inipun bersebalahan dengan rumahku. Memiliki bentuk yang sama dan ukuran yang sama, hanya saja rumah ini sedikit lebih bagus karena usianya memang jauh lebih muda daripada rumahku yang aku ceritakan sebelumnya, dibangun di akhir tahun delapan puluhan. Waktu kecil saya sering tidur di rumah ini bersama nenek. Saya suka rumah ini karena ini satu-satunya rumah yang jauh dari kata menyeramkan. Tidak ada aura-aura aneh yang menggeliat dan hawa-hawa yang sulit dijelaskan oleh akal sehat sama sekali tidak pernah aku rasakan. Tapi ada yang tak lazim dan cenderung mengganggu apa yang ada dibelakang rumah ini. Halaman belakang rumah yang sangat sempit langsung berbatasan dengan jalan yang membelah desa kami. Di ...

MAMA PULANG

Lantai kayu berderit. Suara langkahan kaki  mendekati kamar kami. "Ibu datang..." bisikku pada adik perempuanku yang masih melek itu. Wajahnya berkerut menyiratkan rasa takut yang teramat sangat. Ia menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Salah satu tangannya melingkari dadaku dan satunya lagi melilit lenganku dengan kuatnya. Nafasnya terdengar riuh tak beraturan. Degup jantung berdegub kencang dapat ku rasakan menggedor-gedor dinding dadanya. Seluruh tubuh bocah itu di banjiri keringat. Semuanya hening. Aku memasang pendengaranku lebih tajam mencoba menangkap detil-detil suara kecil yang berasal dari luar. Melalui celah di bawah daun pintu, mataku menangkap bayangan aneh yang tak bergerak sejak beberapa menit yang lalu. Seingatku sebelumnya tak ada bayangan apapun di sana. Tiba-tiba lampu di ruang keluarga mati dengan sendirinya melenyapkan bayangan tadi. Ini membuatku merinding. Nafas adikku yang bak angin badai itu terus meniup-ni...

RUANG TUNGGU

"Ibu Nadya?" Suara panggilan itu meruntuhkan lamunanku sejak tadi. Seorang perawat berperawakan tinggi, kurus dan yang pasti cantik sedang berdiri di hadapan kami. Istriku yang sedang duduk di sebelahku menyiratkan wajah takut bercampur sedih, menatapku seolah-olah memohon agar aku mengurungkan niatku. Perawat itu menjulurkan tangannya, meraih tangan istriku yang masih gemetar sejak tadi. Dengan penuh ragu, sambil mengelus perutnya, istriku perlahan bangkit dari kursinya. Matanya yang basah itu menunjukkan ingin dikasihani. Aku membuang pandanganku karena tidak tega berhadapan dengan sorot matanya saat ini. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding dengan perasaan lelah yang terus membantai pikiranku hari ini begitu pintu ruang operasi menutup. Pikirku, istriku akan baik-baik saja. Aku tidak ingin ini semakin membebani pikiranku. Lagipula ini bukan yang pertama kali. Aku seharusnya lebih tenang sekarang. Tapi entah kenapa, pemikiran buruk terus meneror pikiranku. ...