Setiap malam sehabis magrib, aku dan kakakku bersama dua orang tetangga kami yang salah satunya anak laki-laki seumuranku dan seorang perempuan sebaya kakakku menempuh jalan tengah desa kami yang belum di aspal—masih berupa batu-batu kerikil dan tanah—menuju rumah kakak sepupu kami untuk mengaji. Ini memenag rutinitas setiap malam. Disana bukan hanya kami saja, banyak anak-anak tetangga kakak sepupuku yang juga menjalani rutinitas mengaji disana. Disana begitu menyenangkan, kami bercengkrama, bersenda gurau, bermain petak umpet setelah pengajian selesai dan segala macam permainan anak kecil lainnya.
Rumah kakak sepupuku juga merupakan rumah adat Aceh yang bentuknya sama dengan rumahku. Hanya saja rumah kakak sepupuku sedikit memanjang bentuknya. Jika rumahku terdapat Dua Puluh tiang penopang, rumah kakak sepupuku yang ini memilii lebih banyak tiang penopang. Oleh karena itu rumah kakak sepupukuku terlihat lebih besar, lebih gelap dan lebih creepy. Dibanding rumahku, rumah kakak sepupuku ini terlihat lebih tua karena modelnya, di bangun di awal-awal abad Dua Puluh.Tidak banyak perombakan, hanya sedikit mengalami penggantian kayu, papan dan sejenisnya karena pelapukan. Nenekku pun menghirup udara pertama kali dirumah ini selanjutnya melahirkan ibuku pun di rumah ini.
Selesai pengajian, sebagian anak-anak yang tinggalnya di dekat sini memilih pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara kami yang tinggalnya jauh dari sini memilih menginap ditemani juga beberapa anak-anak tetangga sini yang juga ikut menemani kami menginap. Sebenarnya cukup seru tidur bersama-sama. Tidur berderet di ramoe keue (Serambi depan). Aku dan teman seusiaku tidur paling ujung sedikit dipisah karena cuma kami berdua yang berjenis kelamin laki-laki. Sebenarnya tanpa dipisahpun tidak ada masalah. Kami cuma anak-anakyang bahkan belum mampu menulis nama sendiri.
BLEK!
Merupakan sebuah rutinitas harus terjaga di tengah malam. Ini kebiasaan yang tak bisa dihindari. Dalam remang-remang, anak-anak semua tidur berderet. Terlelap. Terkadang ada yang mengigau, suarakan gigi merekat dan suara garukan. Sunyi sekali. Aku berusaha memejamkan mataku kembali, tapi rasa takut yang memburu tanpa ampun membasahi beberapa bagian tubuhku dengan keringat dingin. Ada suara ketukan dibawah, mungkin suara ayam, suara gesekan di dinding, suara kaki yang diseret di tanah berbaur menjadi segumpal energi yang memburuku dalam ketakutan yang tak dapat ku tahan. Sama halnya ketika aku berada di rumahku sendiri, aku takut membuat suara dalam keheningan. Takut mereka mendengar dan menemukanku. Aku menatap ke langit-langit. Rumah ini juga tanpa loteng. Jadi aku bisa melihat jelas atap rumbia yang bersusun dan kayu-kayu yang saling merekat satu sama lain, dari tiang yang satu ke tiang yang lainnya. Pemandangan langit-langit menambah seram suasana. Hanya cahaya remang-remang sumbangan dari lampu kecil dari luar.
Bukan sengaja, tapi memang mataku tertuju ke Coeng Para. Seperti ada sesuatu yang mengundang mataku untuk mengarah kesana. Aku teringat cerita kakaku yang pernah bermalam di rumah ini. Katanya dia melihat seenggok kepala menggeleng-geleng di coeng para sambil melihat ke arahnya dengan mulut bergaris senyuman kecil dan mata yang agak melotot. Entah cerita itu benar atau hanya karangannya belaka. Meskipun begitu, membayangkannya saja membuat jantungku rasanya turun ke perut. Tapi untung saja seumur aku bermalam disini aku tidak pernah mendapati pemandangan semacam itu. Hanya saja bayangan-bayangan berdasarkan cerita orang-orang seolah-olah begitu nyata bagiku dan hawa-hawa aneh yang menyergapku. Aku sering merasa seakan-akan ada yang sedang memperhatikanku dari jarak yang sangat dekat sekali.
Bukan cuma di malam hari, di siang hari saja rumah ini begitu menyeramkan bagiku. Pernah aku disuruh ke atas untuk mengambil sesuatu dan itu membuatku takut setengah mati. Yang paling membuatku parno adalah ramoe Likoet (Serambi belakang). Serambi belakang ini setengahnya difungsikan layaknya gudang. Dimana barang-barang yang jarang dipake di taruh disana dan juga padi yang baru dipanen disusun disana. Gelap dan berantakan yang menambah takut ketika dipandang. Belum juga kain-kain yang dibiarkan menggantung seperti tirai dan kain-kain yang dibungkus juga dibiarkan disana.
Dulu, entah aku benar-benar melihat atau hanya sekedar imajinasi belaka, aku pernah melihat seonggok kepala perempuan berambut ikal panjang muncul dari balik ‘Semak-semak’ itu. Dia melihatku seolah ingin memakanku. Aku tidak ingat aku pernah mengalami ini di umur berapa, yang jelas aku masih sangat kecil waktu itu. Dan yang membuatku bingung entah itu terjadi di alam nyata atau alam mimpi. Entahlah.
Lain lagi dengan cerita kakakku ketika malam dia bermalam dirumah itu. Waktu itu bersama teman-temannya mereka tidak tidur di atas, melainkan di lantai bawah. Lantai bawah ini sebenarnya hanya sebuah ruangan memanjang yang menyatu dengan dapur serta sebuah bak mandi yang sedikit dibatasi dengan dinding pemisah dari beton. Lantai bawah ini sebenarnya memang diperuntukkan untuk dapur dan letaknya tidak tepat berada di bawah lantai atas. Jika anda pernah melihat rumah aceh di desa-desa, anda pasti mengerti. Mereka tidur di dekat tangga di sebuah ranjang yang cukup lebar yang mampu memuat beberapa orang. Saat tengah malam ia terjaga, dia melihat dengan jelas seorang pria berbadan cukup besar tak berpakaian berjalan ke arah dapur. Pria bertubuh gemuk ini dengan lipatan-lipatan lemak di sekitar pinggangnya berjalan disisi kakakku yang sedang pura-pura tertidur. Entah karena ingin memastikan atau apa, kakakku mencuil bagian tubuh pria itu perlahan dan terasa olehnya kulit yang empuk dan kenyal. Jarinya seolah masuk ke dalam daging pria gemuk tersebut.
Lantai bawah ini kalau menurutku juga tidak kalah menyeramkan. Terasa gelap bahkan pada siang hari. Hanya saja penerangannya sedikit diakali dengan sebuah lubang di atap yang ditutupi dengan kaca agar cahaya masuk. Tapi itu tak banyak membantu. Tetap saja sudut-sudut lantai bawah rumah ini tampak gelap sehingga bayang-bayang sesuatu yang tak kasat mata seolah-olah sedang memandangiku disana.
Lebih dari dua puluh tahun kemudian aku mulai lebih jarang masuk ke rumah ini. Sekarang rumahnya sudah agak lebih mendingan suasananya. Seperti aura-aura aneh yang sudah mengungsi dari rumah ini. Tapi entahlah. Aku tak lagi tahu banyak tentang kondisi rumah ini di malam hari. Lebih tepatnya aku tidak mau tahu.
