Skip to main content

SANG PENGHUNI Bagian 3 : JERITAN MALAM



Sama seperti kedua rumah sebelumnya, rumah nenekku juga rumah panggung Aceh yang sama seperti kedua rumah yang aku ceritakan sebelumnya. Rumah nenek sekarang hanya di tinggali oleh bibiku setelah kepergian nenek tujuh tahun yang lalu. Rumah inipun bersebalahan dengan rumahku. Memiliki bentuk yang sama dan ukuran yang sama, hanya saja rumah ini sedikit lebih bagus karena usianya memang jauh lebih muda daripada rumahku yang aku ceritakan sebelumnya, dibangun di akhir tahun delapan puluhan.

Waktu kecil saya sering tidur di rumah ini bersama nenek. Saya suka rumah ini karena ini satu-satunya rumah yang jauh dari kata menyeramkan. Tidak ada aura-aura aneh yang menggeliat dan hawa-hawa yang sulit dijelaskan oleh akal sehat sama sekali tidak pernah aku rasakan. Tapi ada yang tak lazim dan cenderung mengganggu apa yang ada dibelakang rumah ini. Halaman belakang rumah yang sangat sempit langsung berbatasan dengan jalan yang membelah desa kami. Di seberang jalan masih terdapat sepetak tanah milik nenek. Tidak terlalu besar. Di salah satu sudut tanah nenek ini telah lama tumbuh sebatang pohon ulim--begitulah kami menyebutnya-- yang tidak terlalu besar yang juga sebagai penanda batas. Pohon ini sangat indah ketika musim berbunga. Bunganya berwarna kuning menutupi seluruh daunnya. Belum lagi yang jatuh berhamburan ke bawah menutupi sebuah parit kecil dan sebuah kolam ikan yang tidak terlalu besar. Pohon inilah akar segala masalah terror meneror di kawasan tempat tinggalku.

Bagian yang paling aku takuti di rumah nenek adalah sumurnya. Karena ketika berada di sumur, pohon ulim dan dahan-dahannya yang mengerikan terlihat begitu jelas dan seolah begitu dekat. Dulu samar-samar saya pernah melihat seseorang yang berdiri di atas sana pada dahan yang paling kecil. Saya tidak berpikir kalau itu adalah hantu. Tapi tidak masuk akal juga kalau seseorang mampu berdiri di dahan sekecil itu tanpa berpegangan.

Ketika saya membuka mata di tengah malam, sering kali saya mendengar suara-suara jeritan seperti seseorang yang minta tolong atau sejenisnya. Suara-suara itu seolah-olah begitu jauh tapi begitu jelas terdengar. Lebih tepatnya suara-suara itu berasal dari bukit di sebelah rumah nenek. Bukit yang terdapat begitu banyak makam disana. Aku bergidik ngeri. Tiba-tiba tangan nenek menggenggam tanganku untuk mengurangi ketakutanku dan juga memintaku untuk tidur kembali. Ketika aku bertanya itu suara apa, nenek menjawab dengan serius kalau itu suara orang-orang yang sedang mengalami siksa kubur.

Aku terlalu sering mendengar suara-suara ini di tengah malam. Walau tidak setiap malam. Biasanya suara ini muncul di saat semua sangat sunyi. Tidak ada suara-suara yang lain semacam suara burung, suara jangkrik atau suara malam lainnya, hanya suara jeritan itu saja. Suaranya terdengar panjang melolong jauh dan dalam sekali. Lalu berhenti sejenak, lalu suara itu kembali dengan frekuensi yang berbeda kadang lebih panjang dan lebih dalam.

Nenek sudah sangat sering mendengar suara-suara ini sejak saat pertama kali nenek pindah kemari. Sebelumnya nenekku tinggal di rumah yang aku ceritakan pada BAB KEDUA cerita ini. Dia pindah kemari yang jaraknya hanya Seratus Lima Puluh meter dari rumah sebelumnya sejak tahun Tujuh Puluhan akhir. Sebelum nenek membangun rumah pertamanya disini, hanya ada satu rumah di sekitar sini. Sebuah rumah yang dihuni oleh seorang wanita yang sudah cukup tua. Sisanya lokasi di sekitar sini dihuni oleh makhluk-makhluk yang tak kasat mata. Seperti pria-pria bertubuh tinggi yang menghuni hamparan sawah di belakang rumahku. Namun sekarang sudah jarang menampakkan diri. Daerah sini juga di tinggali oleh keluarga-keluarga ghaib bahkan sampai sekarang mereka sering wara wiri di daerah sini. Mereka hidup berdampingan dengan kami. Tapi Tak mengganggu sama sekali.

Ternyata nenek tak mengapa dengan semua kondisi ini. Bisa dibilang nenekku adalah seorang yang sangat pemberani. Setiap malam ia melakukan shalat wajib berjamaah ke Meunasah yang jaraknya lebih dari Seratus Lima Puluh meter dari rumah dengan melewati jalan desa berbatu kerikil yang di kawal semak-semak di kanan dan kirinya. Biasa nenek perginya sebelum magrib dan kembali setelah isya.

Dalam perjalanan kembalinya, ketika sampai di kawasan tak terdapat satu rumahpun, nenek menyalakan obor yang dibuatnya dari daun kelapa yang sudah kering. Dinyalakan obor buatannya itu lalu dia melangkah secepat yang ia mampu sementara matanya hanya menoleh ke jalan setapak. Dia dalam keadaan menunduk. Ia tak berani menoleh ke kiri dan ke kanan bahkan ke depan. Matanya hanya memandangi kakinya agar tidak terjerumus ke lobang-lobang yang tercipta oleh ban sepeda atau ban-ban mobil yang sesekali melintas di jalan itu. Nenek cukup sadar, di sisi jalan kalau ia mau menoleh ia akan mendapati pemandangan yang akan membuat lututnya lemah. Kemungkinan terburuk ia akan dibawa bersama mereka berdarma wisata ke hutan-hutan sekitar sana. Kuntilanak adalah jenis yang paling banyak diantara mereka. Di tepi jalan mereka asik menyisir rambut, mamainkan rambut dengan jari-jarinya dan segala kelakuan kuntilanak lainnya. Itulah alasan nenek kenapa tidak menoleh ke sana.


Menjelang tidur, nenek sering sering bercerita padaku tentang hal-hal ghaib yang pernah dialaminya. Nenek juga pernah bilang, ketika kita melihat sesuatu dalam kegelapan seperti bayang-bayang atau gumpalan asap berwarna hitam dengan jumlah yang banyak sekali. Gumpalan asap itu kadang-kadang mengecil lalu membesar lalu mengecil lagi. Sebenarnya itu adalah setan. Aku sering melihat ini saat masih kecil dulu, tapi sekarang sudah tidak pernah.

Popular posts from this blog

MAMA PULANG

Lantai kayu berderit. Suara langkahan kaki  mendekati kamar kami. "Ibu datang..." bisikku pada adik perempuanku yang masih melek itu. Wajahnya berkerut menyiratkan rasa takut yang teramat sangat. Ia menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Salah satu tangannya melingkari dadaku dan satunya lagi melilit lenganku dengan kuatnya. Nafasnya terdengar riuh tak beraturan. Degup jantung berdegub kencang dapat ku rasakan menggedor-gedor dinding dadanya. Seluruh tubuh bocah itu di banjiri keringat. Semuanya hening. Aku memasang pendengaranku lebih tajam mencoba menangkap detil-detil suara kecil yang berasal dari luar. Melalui celah di bawah daun pintu, mataku menangkap bayangan aneh yang tak bergerak sejak beberapa menit yang lalu. Seingatku sebelumnya tak ada bayangan apapun di sana. Tiba-tiba lampu di ruang keluarga mati dengan sendirinya melenyapkan bayangan tadi. Ini membuatku merinding. Nafas adikku yang bak angin badai itu terus meniup-ni...

RUANG TUNGGU

"Ibu Nadya?" Suara panggilan itu meruntuhkan lamunanku sejak tadi. Seorang perawat berperawakan tinggi, kurus dan yang pasti cantik sedang berdiri di hadapan kami. Istriku yang sedang duduk di sebelahku menyiratkan wajah takut bercampur sedih, menatapku seolah-olah memohon agar aku mengurungkan niatku. Perawat itu menjulurkan tangannya, meraih tangan istriku yang masih gemetar sejak tadi. Dengan penuh ragu, sambil mengelus perutnya, istriku perlahan bangkit dari kursinya. Matanya yang basah itu menunjukkan ingin dikasihani. Aku membuang pandanganku karena tidak tega berhadapan dengan sorot matanya saat ini. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding dengan perasaan lelah yang terus membantai pikiranku hari ini begitu pintu ruang operasi menutup. Pikirku, istriku akan baik-baik saja. Aku tidak ingin ini semakin membebani pikiranku. Lagipula ini bukan yang pertama kali. Aku seharusnya lebih tenang sekarang. Tapi entah kenapa, pemikiran buruk terus meneror pikiranku. ...