Skip to main content

RUANG TUNGGU




"Ibu Nadya?"

Suara panggilan itu meruntuhkan lamunanku sejak tadi. Seorang perawat berperawakan tinggi, kurus dan yang pasti cantik sedang berdiri di hadapan kami. Istriku yang sedang duduk di sebelahku menyiratkan wajah takut bercampur sedih, menatapku seolah-olah memohon agar aku mengurungkan niatku.

Perawat itu menjulurkan tangannya, meraih tangan istriku yang masih gemetar sejak tadi.

Dengan penuh ragu, sambil mengelus perutnya, istriku perlahan bangkit dari kursinya. Matanya yang basah itu menunjukkan ingin dikasihani. Aku membuang pandanganku karena tidak tega berhadapan dengan sorot matanya saat ini.

Aku menyandarkan kepalaku ke dinding dengan perasaan lelah yang terus membantai pikiranku hari ini begitu pintu ruang operasi menutup. Pikirku, istriku akan baik-baik saja. Aku tidak ingin ini semakin membebani pikiranku. Lagipula ini bukan yang pertama kali. Aku seharusnya lebih tenang sekarang. Tapi entah kenapa, pemikiran buruk terus meneror pikiranku.

Setelah memejamkan mata beberapa detik sambil mengurut-urut keningku, aku menyadari hanya aku seorang diri di ruang tunggu yang sunyi itu. Aku bangkit dari kursi lalu mondar-mandir di depan ruang operasi karena merasa gelisah tentang keadaan istriku di dalam sana, lalu kembali menepuk pantatku ke kursi, lalu bangkit lagi dan duduk kembali.

Aku melirik arlojiku. Ini hampir dua jam. Aku menyandarkan lagi kepalaku ke dinding sambil memejam mata.

Sebuah suara merongrong masuk ke telingaku memaksa kedua kelopak mataku terangkat. Aku memperhatikan ke sekitarku dan sekali lagi memasang telingaku dengan baik, mencoba mencari-cari suara yang mendadak menyusup ke indra dengarku tadi. Aku bingung karena tidak menemukan asal suara apapun. Aku mengedarkan pandanganku hingga ke ujung koridor yang gelap. Hanya bayangan-bayangan fatamorgana yang menipu mataku, menurut akal sehatku.

Aku menghembus nafas berat, lalu memejam kedua mataku dan mengusap-usapnya. Sesosok bayi mungil berlumuran darah dengan tali pusarnya yang menjuntai hingga ke lantai yang sedang telungkup di pangkuanku membuatku kaget dan berteriak keras bergema hingga ke ujung koridor.

"Bapak ketiduran?" tanya seorang perawat yang entah sejak kapan berdiri di depanku itu.

Aku mengusap-usap mataku menyadari aku memang ketiduran beberapa detik yang lalu. Entahlah, aku merasa lelah, dan perasaanku memang sedang tidak baik.

"Apa sedang menunggu istrinya, Pak?" tanya perawat itu lagi.

Aku masih diam saja. Bukan mengabaikannya, hanya saja aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Perawat itu tersenyum kecil lalu pergi dan beberapa saat kemudian dia kembali dengan segelas air,"Silahkan..."

Aku meraih gelas berisikan air itu lalu meneguknya perlahan. Aku meletakkan gelas tadi di sisiku yang setengahnya masih tersisa air. Aku melemparkan senyum pada perawat itu sambil berterima kasih dan perawat itupun pergi.

Begitu perawat itu membelakangiku, entah karena haus atau apa, aku kembali meneguk sisa minumanku tadi seperti orang yang kehausan selama seminggu. Aku meletakkan gelasnya ke tempat semula saat isi gelas telah habis ku seruput. Aku menyeka keringat yang mengembun di dahiku.

Entah darimana datangnya, tiba-tiba hawa dingin menyusup ke pakaianku, seperti meraba-raba kulitku dan bahkan rasanya seperti di cengkram. Aku menggigil. Saat dingin tak mampu lagi ku tahan, hawa panas datang seolah menyelamatkan yang membuatku merasa aneh. Aku berkeringat kembali. Aku meraih gelas yang ada di sisiku tadi. Sontak saja tubuhku terpental ke lantai saat mataku menemukan gelas yang berisikan air tadi berlumuran darah. Aku merasakan sesuatu yang aneh di sekitar bibirku. Aku menyekanya dengan tanganku yang membuatku semakin shock saat melihat tanganku berlumuran cairan merah yang baunya sangat menjijikkan.

Dengan tubuh yang bergetar hebat aku mengangkat tubuhku yang mulai lemas. Sambil menyapu-nyapu darah di area sekitar bibirku dengan lengan bajuku, aku tertatih-tatih menuju toilet. Aku mencuci muka dan membersihkan noda-noda darah di lengan bajuku. Saking takutnya, aku tak ingin berlama-lama di tempat yang sangat sunyi dan remang-remang itu.

Aku kembali ke ruang tunggu lalu menggedor-gedor pintu ruang operasi dengan keras sambil berteriak-teriak memanggil istriku. Tapi sepertinya tidak ada yang mendengarkanku.

Tiba-tiba suara bayi menangis membuatku terdiam. Entah dari mana asal suara itu.  aku menyusuri koridor untuk mencari asal suara tersebut.

Seorang wanita yang terus meneteskan darah di antara kedua pahanya di ujung koridor yang gelap perlahan sedang menuju ke arahku. Langkahku terhenti, seakan kedua kakiku membatu, tetapi aku memaksanya untuk melangkah mundur. Wanita yang wajahnya samar-samar itu semakin mendekatiku seiring lampu dari ujung koridor mulai padam satu persatu. Aku memaksa kakiku melangkah lebih cepat saat aku mulai berbalik. Aku mencoba berteriak, tapi suaraku seakan tertahan di kerongkonganku. Saat semua lampunya padam, teriakanku bergema ke seluruh penjuru klinik itu.

"Aaakkhh!!" aku mengerang kesakitan saat kepalaku terbentur ke lantai. Tubuhku roboh terkapar tak berdaya setelah terpeleset lantai yang licin. Terlalu gelap. Aku meraba-raba ke segala arah mencari-cari tempat berpegangan untuk mengangkat tubuhku dari lantai yang dingin itu. Nafasku terengah-engah tak beraturan, sementara tanganku terus meraba-raba ke sekitar hingga ku temukan sepasang kaki yang sepertinya sedang berdiri di depanku. Antara takut dan lega,"Siapa? Apa seseorang bersamaku?". Aku tak sungguh-sungguh mengira kalau sosok yang ada di hadapanku itu adalah manusia.

Aku mendongak ke atas tepat ke wajahnya, samar-samar terlihat sekilas seperti seorang wanita dengan rambutnya yang terurai panjang. Aku merasakan matanya sedang berpapasan dengan mataku sesaat sebelum desahannya yang mengerikan membuatku bergidik.

Menyadari ada sesuatu yang aneh, aku merangkat mundur, langkahan kaki wanita itupun mengikutiku. Walau sedikit gelap, mataku mampu menangkap sesuatu yang mengalir di kedua paha wanita itu, entah darimana asal cairan-cairan itu yang semakin lama tampak semakin kental menetes mengotori lantai. Mataku sungguh tak dapat mempercayainya sekaligus membuatku penasaran dalam ketakutan saat sebongkah benda aneh dari dalam rok wanita itu menimpa lantai. Aku menahan nafas dan berhenti bergerak, memperhatikan benda aneh itu tampak diam disana. Berusaha melawan rasa takutku, aku mencoba meraih benda itu. Tiba-tiba saja benda itu bergerak dan menghentikan gerakan tanganku. Benda itu seperti merangkak ke arahku di susul ekornya yang panjang dan berlumuran darah,"Apa-apaan!!".

Entah kekuatan darimana aku mampu mengangkat tubuhku dan berusaha mengayun langkah, tapi sesuatu yang melilit di kakiku membuat tubuhku kembali menumbruk lantai dengan keras. Aku meronta dan berusaha berteriak, tapi ada sesuatu yang telah meliliti leherku dengan kuat hingga aku tak bisa bernafas. Aku berusaha sekuat tenaga meraih benda yang melilit leherku tersebut dan bertarung untuk melepaskannya. Dengan seluruh sisa tenagaku aku berhasil melepaskan lilitannya lalu melemparnya ke dinding dengan kuat hingga ia terkapar di lantai tak berdaya. Dia tak bergerak,"Monster? Monster apa kau ini?".

Aku memilih telungkup di lantai sejenak untuk mengistirahatkan tubuhku, memejamkan mata sambil menahan rasa sakit yang menggigit hingga ke tulang-tulangku.

Aku terkejut. Aku mengangkat kepalaku saat suara tangisan bayi tiba-tiba berdengung kembali membuat bulu-bulu di tubuhku berdiri. Aku melihat benda yang ku lempar ke dinding tadi pelan-pelan bergerak. Sepasang tangannya yang mungil menjulur ke arahku, ia mengangkat kepalanya, kedua kakinya yang sangat kecil mendorong-dorong tubuhnya agar bergerak ke depan. Aku tak percaya apa yang tertangkap oleh mataku, tapi aku penasaran mengenai makhluk apakah itu. Dia semakin mendekatiku sementara aku tak bergerak. Hampir dapat ku lihat dengan detil bentuk wajahnya yang mengerikan, tubuhnya yang kecil berlumuran darah dan ekornya yang panjang. Tapi, setelah ku perhatikan lagi, itu bukan ekor, tapi sesuatu yang berasal dari bagian atas perutnya yang memanjang seperti ekor.

Sekarang dia berada tepat di hadapanku dengan tatapannya yang mengerikan. Sebelum aku sempat berteriak, sebuah pintu membuka di hadapanku diikuti cahaya lampu yang kembali menerangi hingga ke ujung koridor.

"Pak Arya?"

Seorang wanita berpakaian layaknya seorang dokter mengangkat tubuhku yang sudah tak berdaya di lantai, menuntunku masuk ke dalam dan membaringkanku di sofa dengan dibantu seorang suster,"Apa yang bapak lakukan disini?" tanyanya bingung setelah melihat kondisiku.

"Istriku... Dimana dia? Apa dia sudah selesai?" tanyaku dengan suara lelah.

Wanita itu menoleh ke arah suster yang sedang berada disebelahnya. Keduanya tampak heran.

Aku bangkit dari pembaringanku dan kembali menanyakan hal yang sama, "dimana dia? Istriku... Dimana dia? Apa dia baik-baik saja?"

"Pak? Pak Arya?!" Wanita itu menggoyang-goyangkan tubuhku yang dalam keadaan setengah sadar itu."Apa bapak ingat setahun yang lalu istri bapak meninggal saat melakukan Aborsi disini?"

Aku terperanjat. Aku tidak bisa percaya apa yang baru saja kudengar. Menurutku wanita itu hanya bercanda. Kenapa tidak, seingatku beberapa jam yang lalu aku yang mengantar istriku kemari,"Tadi aku bersamanya disini, bagaimana kau mengatakan dia sudah meninggal?" kataku tak percaya.

"Dia sudah meninggal saat melakukan Aborsi yang ketujuh kalinya setahun yang lalu, Pak...." kata wanita itu dengan tatapan ibanya.

Aku menggeleng-geleng kepalaku sambil bangkit dari sofa, sesekali aku tertawa kecil seperti orang sakit jiwa sembari mengayun langkahku menuju pintu.

"Istriku?" Senyumku terkembang saat kulihat orang yang sangat kucintai itu sedang menungguku diruang tunggu. Dia tersenyum manis membuat pipi-pipinya tertusuk oleh kedua ujung bibirnya. Aku menggandeng tangannya lalu berlalu menyusuri koridor. Aku tak peduli saat orang-orang yang kutemui disana melihatku dengan tatapan yang aneh.

***

Popular posts from this blog

SANG PENGHUNI Bagian 3 : JERITAN MALAM

Sama seperti kedua rumah sebelumnya, rumah nenekku juga rumah panggung Aceh yang sama seperti kedua rumah yang aku ceritakan sebelumnya. Rumah nenek sekarang hanya di tinggali oleh bibiku setelah kepergian nenek tujuh tahun yang lalu. Rumah inipun bersebalahan dengan rumahku. Memiliki bentuk yang sama dan ukuran yang sama, hanya saja rumah ini sedikit lebih bagus karena usianya memang jauh lebih muda daripada rumahku yang aku ceritakan sebelumnya, dibangun di akhir tahun delapan puluhan. Waktu kecil saya sering tidur di rumah ini bersama nenek. Saya suka rumah ini karena ini satu-satunya rumah yang jauh dari kata menyeramkan. Tidak ada aura-aura aneh yang menggeliat dan hawa-hawa yang sulit dijelaskan oleh akal sehat sama sekali tidak pernah aku rasakan. Tapi ada yang tak lazim dan cenderung mengganggu apa yang ada dibelakang rumah ini. Halaman belakang rumah yang sangat sempit langsung berbatasan dengan jalan yang membelah desa kami. Di ...

MAMA PULANG

Lantai kayu berderit. Suara langkahan kaki  mendekati kamar kami. "Ibu datang..." bisikku pada adik perempuanku yang masih melek itu. Wajahnya berkerut menyiratkan rasa takut yang teramat sangat. Ia menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Salah satu tangannya melingkari dadaku dan satunya lagi melilit lenganku dengan kuatnya. Nafasnya terdengar riuh tak beraturan. Degup jantung berdegub kencang dapat ku rasakan menggedor-gedor dinding dadanya. Seluruh tubuh bocah itu di banjiri keringat. Semuanya hening. Aku memasang pendengaranku lebih tajam mencoba menangkap detil-detil suara kecil yang berasal dari luar. Melalui celah di bawah daun pintu, mataku menangkap bayangan aneh yang tak bergerak sejak beberapa menit yang lalu. Seingatku sebelumnya tak ada bayangan apapun di sana. Tiba-tiba lampu di ruang keluarga mati dengan sendirinya melenyapkan bayangan tadi. Ini membuatku merinding. Nafas adikku yang bak angin badai itu terus meniup-ni...