Skip to main content

Posts

SEKELAS

Recent posts

MAMA PULANG

Lantai kayu berderit. Suara langkahan kaki  mendekati kamar kami. "Ibu datang..." bisikku pada adik perempuanku yang masih melek itu. Wajahnya berkerut menyiratkan rasa takut yang teramat sangat. Ia menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Salah satu tangannya melingkari dadaku dan satunya lagi melilit lenganku dengan kuatnya. Nafasnya terdengar riuh tak beraturan. Degup jantung berdegub kencang dapat ku rasakan menggedor-gedor dinding dadanya. Seluruh tubuh bocah itu di banjiri keringat. Semuanya hening. Aku memasang pendengaranku lebih tajam mencoba menangkap detil-detil suara kecil yang berasal dari luar. Melalui celah di bawah daun pintu, mataku menangkap bayangan aneh yang tak bergerak sejak beberapa menit yang lalu. Seingatku sebelumnya tak ada bayangan apapun di sana. Tiba-tiba lampu di ruang keluarga mati dengan sendirinya melenyapkan bayangan tadi. Ini membuatku merinding. Nafas adikku yang bak angin badai itu terus meniup-ni...

DIA IKUT

Sebentar lagi tengah malam bertamu. Gerimis masih mengepung bumi sejak tadi. Beberapa diantara mereka singgah di kaca mobil kami. Aku masih shock saat mobilnya berhenti. Tak ku sadari mobil sudah beristirahat tepat di depan rumah kami. "Kau turunlah dulu. Aku harus mencuci mobilnya," suruh Juno, suamiku, yang sedang berada di sebelahku. Dia terlihat takut namun berusaha untuk terlihat baik-baik saja dihadapanku. Aku menatap wajahnya dengan tatapan sedih dan takut. Dia menggenggam tanganku erat "Semua akan baik-baik saja. Kau tak perlu merasa cemas," ucapnya berusaha membuatku tenang. "Wanita itu ...." Aku belum menyelesaikan kata-kataku, Juno langsung memotongnya, "Tidak akan ada yang tahu, Sayang. Kau masuklah dulu bersama Rafi." Aku keluar dari mobil lalu membuka pintu belakang mobil. Bocah kecilku masih terlelap di sana sejak tadi. Aku meraih tubuhnya lalu membawanya masuk ke rumah sementara Juno bergeg...

RUANG TUNGGU

"Ibu Nadya?" Suara panggilan itu meruntuhkan lamunanku sejak tadi. Seorang perawat berperawakan tinggi, kurus dan yang pasti cantik sedang berdiri di hadapan kami. Istriku yang sedang duduk di sebelahku menyiratkan wajah takut bercampur sedih, menatapku seolah-olah memohon agar aku mengurungkan niatku. Perawat itu menjulurkan tangannya, meraih tangan istriku yang masih gemetar sejak tadi. Dengan penuh ragu, sambil mengelus perutnya, istriku perlahan bangkit dari kursinya. Matanya yang basah itu menunjukkan ingin dikasihani. Aku membuang pandanganku karena tidak tega berhadapan dengan sorot matanya saat ini. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding dengan perasaan lelah yang terus membantai pikiranku hari ini begitu pintu ruang operasi menutup. Pikirku, istriku akan baik-baik saja. Aku tidak ingin ini semakin membebani pikiranku. Lagipula ini bukan yang pertama kali. Aku seharusnya lebih tenang sekarang. Tapi entah kenapa, pemikiran buruk terus meneror pikiranku. ...

SANG PENGHUNI Bagian 4 : KELUARGA GHAIB

Tidak ada yang tahu sejarahnya tentang tanah yang kami tinggali sekarang. Yang kami tahu, sebelumnya disini hanya semak-semak yang dibeli kakekku lalu dibangun sebuah rumah. Selebih itu tidak. Tapi belakangan aku merasa ada yang terusir dari sini setelah kami menempati daerah sini. Mereka yang terusirpun sekarang mendiami sisi bukit di seberang jalan. Kenapa mereka tidak pergi saja ke ujung bukit yang jauh dari hiruk pikuk manusia? Hanya menyebrang beberapa bukit kecil saja lalu mendiami daerah sana dengan tentram. Dulu aku pernah berpikir begitu. Tapi sekarang aku sadar kenapa beberapa makhluk tak kasat mata itu masih tetap tinggal di sekitar kami, seolah enggan untuk pergi. Ternyata di ujung bukit yang aku ceritakan itu terdapat makhluk hitam tinggi besar yang sudah lama menghuni wilayah itu. Kami menyebut bukit itu dengan sebutan Gle Nek Toeng. Mungkin makhluk itu tidak mau menerima penghuni baru. Gle Nek Toeng punya riwaya...

SANG PENGHUNI Bagian 3 : JERITAN MALAM

Sama seperti kedua rumah sebelumnya, rumah nenekku juga rumah panggung Aceh yang sama seperti kedua rumah yang aku ceritakan sebelumnya. Rumah nenek sekarang hanya di tinggali oleh bibiku setelah kepergian nenek tujuh tahun yang lalu. Rumah inipun bersebalahan dengan rumahku. Memiliki bentuk yang sama dan ukuran yang sama, hanya saja rumah ini sedikit lebih bagus karena usianya memang jauh lebih muda daripada rumahku yang aku ceritakan sebelumnya, dibangun di akhir tahun delapan puluhan. Waktu kecil saya sering tidur di rumah ini bersama nenek. Saya suka rumah ini karena ini satu-satunya rumah yang jauh dari kata menyeramkan. Tidak ada aura-aura aneh yang menggeliat dan hawa-hawa yang sulit dijelaskan oleh akal sehat sama sekali tidak pernah aku rasakan. Tapi ada yang tak lazim dan cenderung mengganggu apa yang ada dibelakang rumah ini. Halaman belakang rumah yang sangat sempit langsung berbatasan dengan jalan yang membelah desa kami. Di ...

SANG PENGHUNI Bagian 2 : RUMAH MASA KECIL IBU

Setiap malam sehabis magrib, aku dan kakakku bersama dua orang tetangga kami yang salah satunya anak laki-laki seumuranku dan seorang perempuan sebaya kakakku menempuh jalan tengah desa kami yang belum di aspal—masih berupa batu-batu kerikil dan tanah—menuju rumah kakak sepupu kami untuk mengaji. Ini memenag rutinitas setiap malam. Disana bukan hanya kami saja, banyak anak-anak tetangga kakak sepupuku yang juga menjalani rutinitas mengaji disana. Disana begitu menyenangkan, kami bercengkrama, bersenda gurau, bermain petak umpet setelah pengajian selesai dan segala macam permainan anak kecil lainnya. Rumah kakak sepupuku juga merupakan rumah adat Aceh yang bentuknya sama dengan rumahku. Hanya saja rumah kakak sepupuku sedikit memanjang bentuknya. Jika rumahku terdapat Dua Puluh tiang penopang, rumah kakak sepupuku yang ini memilii lebih banyak tiang penopang. Oleh karena itu rumah kakak sepupukuku terlihat lebih besar, lebih gela...