Air mengembun di kaca jendela bus. Jalanan tampak terlihat lenggang. Ya wajarlah ini sudah lewat tengah malam. Meskipun begitu, laju bus yang kami tumpangi ini tidak terlalu terburu-buru. Para penumpang yang semuanya adalah rombongan intat linto tampak tak ada yang bergerak lagi. Hanya beberapa orang di bangku belakang yang masih sibuk dengan smartphonenya. Kami semua lelah. Setelah malam sebelumnya kami menempuh Delapan jam perjalanan sekarang kami dalam perjalanan kembali dalam waktu tempuh yang sama. Iqbal, seorang pria yang mampu bertahan menjadi sahabat terbaikku sejak SMA, menyadariku masih terjaga tiba-tiba membuka sebuah pembicaraan tentang sesuatu yang lupa ia tanyakan sebelumnya. “Si Farhan. Kamu diundang?” tanyanya tiba-tiba meruntuhkan imajinasiku tentang jalanan yang sunyi. Undangan? Aku berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaannya. Dia sudah menikah? aku benar-benar sam...