Bola mataku menelan cahaya remang-remang begitu ia terbuka. Sunyi sekali. Kalau sudah tengah malam begini, suara jangkrik dan suara-suara binatang malam lainnya memang agak jarang terdengar. Kalaupun ada, suaranya pasti sangat jauh sekali.
Disisiku, adikku masih tertidur pulas. Hanya kami berdua disana berbagi satu kasur yang sama dilindungi kelambu yang sudah sobek sepanjang dua jengkal tangan orang dewasa di sudut atas, tapi ibu mengakalinya dengan menutupinya dengan kain sarung sekalian untuk menghindari cahaya lampu langsung mengenai wajah kami. Aku ketakutan pada kesunyian malam yang sangat mencekam ini. Ingin ku bersuara memanggil ibu di kamar Ayah, tapi aku takut bersuara seakan-akan akan terdengar oleh sesuatu.
“Nyiiiiikkkk”
Suara tangga berderit. Rumah serasa bergoyang seperti ditimpa sebuah beban. Persis seseorang sedang menaiki anak tangga demi anak tangga rumah kami. Rumah kami adalah rumah panggung kayu yang ditopang oleh Dua Puluh Tiang berdiameter dua kali paha orang dewasa. Rumah adat Aceh berdinding kayu dan beratapkan rumbia. Tanpa loteng. Jadi ketika kami mendongak ke atas, mata kami langsung berpapasan dengan atap daun rumbia yang bersusun rapi sekali. Dibangun kira-kira Dua Puluh lima tahun yang lalu oleh kakek kami. Rumah kami tidak di cat. Jadi warnanya seperti warna kayu alami, coklat muda, coklat tua, agak kehitaman serta jelas dengan serat-seratnya sehingga membuat rumah kami tampak sangat tua. Di beberapa bagian hanya berdinding pelepah rumbia dan bambu anyaman.
Biasanya rumah aceh terdapat Ramoe keue (serambi depan) yang langsung berhubungan dengan Manju hanya dipisah oleh pintu. Manju ini bisa disebut juga dengan teras karena manju ini berhubungan langsung dengan tangga—ada juga jenis rumah Aceh yang tidak memiliki Manju, tangganya langsung berhungan dengan Serambi Depan. Serambi depan adalah ruangan memanjang dengan lebar yang bervariasi—berbeda di setiap rumah. Lalu disisi kanan terdapat rambat, sedikit menanjak—tingginya hanya selutut anak balita. Di ujung rambat terdapat sebuah kamar. Semua rumah adat aceh begitu. Lalu disisi kanan rambat agak menurun lagi. Dibagian ini disebut Ramoe Likoet (serambi belakang). Dibagian ini hanya berlantai bambu yang telah dibelah menjadi beberapa bagian lalu saling mengikat satu sama lain sehingga tidak menyebar. Memang begitu, biasanya lantai bambu ini tidak dipaku. Jadi Rambat berada tepat di tengah-tengah dua serambi depan dan belakang yang bersatu tanpa dinding pemisah.
Aku dan adikku menghabiskan malam di serambi belakang. Disini kami sering terlelap dalam mimpi-mimpi indah dan mimpi-mimpi buruk. Dikedua sisi ujung serambi belakang, ada bagian atas dinding yang terbuka cukup lebar sehingga kami bisa melihat pepohonan yang bergoyang tertiup angin.
Inilah mimpi burukku ketika terjaga di tengah malam. Setiap kali menoleh kesana, aku selalu teringat cerita kakak sepupuku ketika dia menginap dirumah ini jauh sebelum aku lahir. Pernah sekali dia terbangun tengah malam. Dia melihat beberapa pria tinggi besar berjalan melewati rumahku. Mereka sangat tinggi, setinggi pohon kelapa katanya. Hantu-hantu berjalan melintasi sawah menuju perbukitan di seberang jalan depan rumahku. Bisa dikatakan, jalan atau lorong kecil disisi rumahku merupakan jalur mereka—para makhluk yang tidak kasat mata. Mereka sering melintas saat magrib, tengah malam dan sebelum subuh. Banyak sekali cerita orang-orang di desaku yang bertemu dengan mereka di malam hari.
Aku pernah mengalaminya sekali. Kira-kira beberapa saat setelah azan magrib. Masih agak terang. Masih tampak antara siang dan malam. Aku melihat sosok yang mirip sekali dengan ibuku berjalan di lorong kecil itu menuju hamparan sawah di belakang rumahku. Apa yang mau dilakukan ibuku ke sawah saat tengah magrib. Belum sempat aku memanggilnya tiba-tiba ibuku mendehem dari dalam rumah. Sontak suara ibu membuatku terperanjat lalu bergegas aku mengangkat langkah seribu.
Yang lebih mengerikan lagi menurut cerita ibuku, lorong kecil disisi rumah kami itu sering tampak seorang perempuan yang berjalan pelan hampir setiap malam pulang pergi ke desa seberang. Dia seorang perempuan yang meninggal setelah melahirkan lebih dari Dua Puluh tahun yang lalu. Dulu, saat dia baru-baru meninggal, penampakannya sangat sering terjadi bahkan hampir setiap malam. Kakek saya yang sering mendapati pemandangan ini. Tapi dia tidak merasa takut karena sosok itu hanya numpang lewat saja bukan niat untuk mengganggu.
Saat aku tak mampu lagi menahan rasa takutku, aku mencubit adikku perlahan agar terjaga. Tapi usaha seperti itu tak pernah membuahkan hasil. Adikku hanya menepis tanganku sambil mengigau lalu mengambil posisi baru dan melanjutkan kembali tidurnya.
Aku memaksakan diri memanggil ibuku dengan suara agak sedikit kupaksakan. Biasanya ibuku akan menyahut pada panggilan pertama. Dia langsung menemuiku dan meminumkanku air putih yang sudah dia siapkan. Aku memang sering kehausan kalau terbangun di tengah malam. Sementara aku kembali merebahkan badanku, ibu hanya duduk saja disisiku menungguku terlelap. Tapi aku hanya pura-pura terlelap dan ketika ibu kembali ke kamarnya aku masih dalam keadaan terjaga. Aku takut memanggil ibu lagi, aku takut membuat suara.
“TREEET THEB !”
Suara ranting pohon yang patah di hutan yang bersebrangan dengan jalan depan rumah kami. Rasanya sangat menyeramkan ketika sunyinya malam terganggu oleh suara-suara semacam itu. Suara itu bisa jadi ditimbulkan karena ranting yang tidak kuat menahan beban monyet yang melompat sembarangan. Di tengah malam, suara-suara hutan seperti itu seolah-olah berada tepat di depan lobang telingaku. Suaranya jelas sekali. Suara langkah kaki di dedaunan. Suara-suara burung yang memekik. Suara-suara sayap burung yang melewati rumah kami dan suara-suara kelelawar yang sedang mencicipi jambu apel di halaman rumah kami. Kadang-kadang aku sering mendengar suara langkah kaki di bawah rumah kami. Aku tidak bergerak. Jantungku memburu. Keringat siap-siap membasuh pori-poriku. Berusaha kupejamkan mata tapi bayangan-bayangan yang tidak ingin kubayangkan rasanya terus memburuku. Harusnya gampang jika aku ingin langsung memastikan suara apakah itu, aku tinggal menaruh kedua mataku dicelah-celah lantai bambu. Tapi aku terlalu penakut untuk melakukan itu. Bagaimana jika mataku nanti berpapasan dengan mata seseorang yang memang tidak ingin kusaksikan seumur hidupku. Aku selalu membayangkan dia berambut panjang sampai ketanah. Tangan berkuku panjang. Bola mata yang besar dan kulit tangan yang mampu mengelupas dengan sendirinya. Kakinya melayang. Sementara ujung bajunya menyentuh tanah.
Setiap malam menjelang tidur, ibu sering bercerita sebelum kedua mataku terpejam. Ia biasanya bercerita kisah-kisah nabi. Lebih seringnya kisah Nabi Yusuf a.s, Kisah nabi Sulaiman a.s, dan Kisah Nabi Muhammad SAW. Ketiga kisah tersebut sangat sering diulang-ulang dan akupun tidak pernah bosan mendengarnya. Sesekali saya meminta ibu untuk menceritakan cerita-cerita hantu. Seingat saya, ibu pernah bercerita beberapa kali tentang hantu yang menghuni setiap Rumah Aceh. Makhluk berbadan besar dan berbulu hitam kelam. Katanya suka memperhatikan anak-anak yang sedang tidur di tengah malam. Makhluk halus ini dikenal dengan sebutan DULAKOEM. Dia hanya menghuni Coeng Para atau bagian loteng, tapi rumah kami tidak berloteng. Hanya beberapa lembar papan yang disusun disana untuk menaruh barang-barang. Intinya difugsikan sebagai gudang. Sekalian tempat itu juga tempat favoritku.
Biasanya aku menghabiskan waktuku disana saat siang hari. Entah hanya membaca buku-buku cerita atau sekedar bermain dengan mainan-mainanku. Saking asiknya tempat itu, aku mengesampingkan tentang keberadaan Dulakoem. Saat siang hari, tempat itu tidak tampak mengerikan sama sekali.
Jika tak ada siapapun dirumah. Meski pada saat siang hari. Ada hawa aneh yang sangat sulit untuk dijelaskan. Kadang saat pulang sekolah, aku paling takut untuk berlama-lama sendirian dirumah walau hanya untuk sekedar mengganti baju saja. Seolah-olah ada yang memperhatikan dari segala arah.
Aku pernah mengalami sebuah mimpi buruk yang tak pernah bisa kulupakan seumur hidup. Meski lebih dari dua puluh tahun telah berlalu, rasanya mimpi itu baru terjadi kemarin. Saat itu aku berada di tangga ketika dua orang manusia aneh keluar dari balik sumur yang berjarak dua meter dari tangga. Salah satunya tampak tua. Tidak terlalu tua. Bisa aku asumsikan dia berumur Lima Puluh tahunan. Rambutnya berwarna merah pendek tak sampai menyentuh kedua bahunya. Sementara yang satunya lagi tampak seperti anak muda berambut warna hijau dikuncir dua. Keduanya keluar dari balik sumur tampak seperti sengaja ingin menakutiku. Mereka tidak tampak seperti hantu, melainkan lebih terlihat seperti badut. Namun tetap saja membuatku mengeluarkan keringat dingin dan tak mampu bergerak. Sampai sekarang masih jelas dalam ingatanku seperti apa bentuk mereka. Syukurlah mimpi itu terjadi pada siang hari. Jadi tidak terlalu membebaniku ketika aku terjaga.
**
Lebih dari Dua puluh tahun berlalu, aku masih dibuat penasaran tentang siapa yang sering berkunjung di tengah malam ke rumah kami tapi tak pernah jadi masuk ke dalam. Aku sering berpikir mungkin karena ada tulisan ‘BISMILLAH’ di depan pintu rumah kami. Mungkin kalimat itu sedikit menganggunya. Setidaknya itulah yang sering dikatakan kakak-kakakku, ditambah ada ayat kursi dalam bingkai yang digantung di dinding rumah kami. Setan-setan akan sangat terganggu dengan ayat-ayat suci.
Belakangan ibuku juga bercerita kalau ia juga sering mendengar suara derit anak tangga di tengah malam diikuti rumah yang serasa bergoyang. Tapi ibu tak pernah menceritakan itu pada siapapun. Pun begitu dengan diriku yang tetap menyembunyikan pengalaman-pengalaman yang mengerikan itu. Tapi sekarang, suara-suara itu tak pernah terdengar lagi. Pernah aku mencoba mencari tahu kira-kira Tiga Tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2016.
Saat kembali dari perantauan, di malam pertama aku memilih tidur di rumah mengabaikan ajakan kawan-kawanku untuk pergi menginap bersama mereka di suatu tempat. Lagipula sudah lama sekali aku tidak tidur dirumah. Sejak memasuki usia remaja, aku lebih banyak menghabiskan waktu di balai pengajian yang tidak jauh dari rumahku. Setiap malam aku dan kawan-kawanku memilih bermalam disana, karena asik tidur sama-sama dan bercengkrama. Kalaupun aku tidak bermalam di Balai pengajian, aku memilih bermalam di rumah bibiku yang bersebelahan dengan rumahku. Maka dari itu aku mulai jarang tidur di rumah bahkan hampir tidak pernah seingat ku kecuali saat aku sakit Lima tahun yang lalu.
Ini malam pertamaku kembali tidur di rumah sendiri, Kali ini aku lebih memilih tidur di ujung serambi serambi depan di dekat jendela yang mengarah langsung ke jalan.Seperti biasa, aku memang selalu terbangun di tengah malam. Namun kali ini aku berusaha agar terjaga lebih lama untuk menunggu dia—suara-suara itu. Sambil tertududuk, aku menghadap pintu. Berharap seseorang mengetuk. Tapi suara derit tangga tak pernah terdengar dimalam itu. Seingatku, saat aku sakit Lima Tahun yang lalu aku juga tidak pernah mengalami hal-hal yang biasa membuat buluku merinding di masa kecil dulu. Begitupun dengan pengakuan ibu, dia sudah tak pernah lagi mendengar suara-suara itu. Mungkin makhluk itu sudah lelah bertamu karena takbisa masuk dan tak ada seorangpun yang mempersilahkan masuk.
Aku pikir aku akan merasa lega karena hal itu. tidak ada lagi gangguan-gangguan yang membuat segala bulu dibadan berdiri. Tapi tunggu, aku tidak benar-benar merasa lega karena dia tidak pernah datang lagi. Bagaimana dia bisa datang lagi sementara dia sudah berada bersama kami dirumah ini entah sejak kapan itu. Yang jelas sekarang dia di rumah ini bersama kami dan tidak pernah pergi.
Kira-kira seminggu yang lalu ada hal ganjil yang di alami ibu saya. Saat itu ibu saya mau tidur. Keadaan rumah tampak gelap. Hanya sedikit cahaya dari luar yang masuk. Menjelang tidur ibu biasanya memang mematikan lampu. Saat itu ibu sedang meniup-niup air di gayung untuk diminum, tiba-tiba ibu mendapatkan sebuah tiupan yang cukup terasa dibagian punggungnya. Sontak ini membuat ia kaget lalu dengan sigap tangannya menyambar saklar. Lampunya menyala tapi tak ada siapapun disana. Wajah ibu berubah menjadi pucat.
Sekian lama ingin masuk ke rumah kami hanya ingin meniup. Ternyata usil juga dia. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada ia menampakkan wajah jeleknya dihadapan kami. Mengingat hal itu, jelas-jelas aku belum siap. Kalaupun dia ingin menampakkan diri, harapan saya tidak dalam keadaan berwajah seram. Kalau ia perempuan semoga berwajah cantik dan kalau ia laki-laki semoga berwajah tampan.
Jauh sebelum itu, saat terbangun tengah malam. Ibu pernah melihat bayangan kain putih berdiri di depan pintu. Samar-samar seperti kain putih yang tersibak-sibak oleh angin. Melihat itu lantas tidak membuat ibu takut. Mungkin arwah Almarhum kakek datang berkunjung di malam lebaran itu, pikirnya begitu. Selama ini, tidak ada seorangpun yang mengingat kakek. Apalagi mengirim doa. Ibu bangun dari tidurnya dengan mengesampingkan segala pikiran negative menuju sumur untuk mengambil wudhu.
**
Siapapun yang sering berkunjung kerumah kami dalam keadaan yang tidak terlihat. Sepertinya kami sudah tak peduli. Selama tamu itu datang dengan tujuan bukan untuk mengganggu, kami akan menjamunya dengan senang hati. Tapi kalau datang untuk mengusik rasa nyaman kami, kami bisa membalas dengan membuat mereka merasa tidak nyaman juga untuk bertamu atau ingin tinggal bersama.
***
