Skip to main content

DIA IKUT




Sebentar lagi tengah malam bertamu. Gerimis masih mengepung bumi sejak tadi. Beberapa diantara mereka singgah di kaca mobil kami. Aku masih shock saat mobilnya berhenti. Tak ku sadari mobil sudah beristirahat tepat di depan rumah kami.

"Kau turunlah dulu. Aku harus mencuci mobilnya," suruh Juno, suamiku, yang sedang berada di sebelahku. Dia terlihat takut namun berusaha untuk terlihat baik-baik saja dihadapanku.

Aku menatap wajahnya dengan tatapan sedih dan takut. Dia menggenggam tanganku erat "Semua akan baik-baik saja. Kau tak perlu merasa cemas," ucapnya berusaha membuatku tenang.

"Wanita itu ...."

Aku belum menyelesaikan kata-kataku, Juno langsung memotongnya, "Tidak akan ada yang tahu, Sayang. Kau masuklah dulu bersama Rafi."

Aku keluar dari mobil lalu membuka pintu belakang mobil. Bocah kecilku masih terlelap di sana sejak tadi. Aku meraih tubuhnya lalu membawanya masuk ke rumah sementara Juno bergegas menancap gas menuju belakang rumah kami.

Aku membaringkan tubuh putraku satu-satunya itu di tempat tidurnya. Sementara ia dalam keadaan terlelap, aku melepaskan sepatunya, juga bajunya yang membuatnya terlihat kurang nyaman jika harus mengenakan itu saat ia tidur. Kubiarkan ia tidur hanya dengan mengenakan singlet dan celana dalamnya. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang mungil itu. Aku mengusap rambutnya, merapikan beberapa helai rambutnya yang berseliweran di dahinya. Kulihat bola matanya bergerak-gerak di bawah kelopak matanya.

"Ibu ...." panggilnya . Ia meraih tanganku lalu membuka matanya. Menyadari aku berada di sisinya, ia kembali memejamkan mata dan terlelap.

Seorang wanita di sisi jalan melayang dan tertumbuk ke kaca depan mobil kami setelah mobil kami oleng tak terkendali karena jalanan yang begitu licin. Aku hanya berteriak 'Aww' sementara Juno tak dapat menghentikan laju mobilnya. Dengan jelas aku dapat mendengar suara tulang belulang wanita itu yang patah karena terinjak mobil kami sesaat setelah tubuh wanita itu terguling dari kap mobil kami.

Kecelakaan yang baru saja terjadi itu kembali melintas di pikiranku. Aku berusaha menenangkan diri walau keringat dingin mulai mengembun di dahiku. Tanganku gemetar. Aku meremas selimut putraku untuk membuat tanganku berhenti bergetar.

Angin malam menerobos jendela yang terbuka mengusik gorden sehingga melambai-lambai. Aku pergi menutup jendela untuk menghentikan udara dingin masuk. Di bawah sana, aku melihat Juno sedang membersihkan mobilnya.

Aku menutup jendela kaca itu. Sebelum aku mencoba menutupi jendelanya dengan gorden, dari balik kaca jendela, tampak oleh mataku seseorang sedang berdiri tepat di belakang Juno. Secepat kilat aku membuka jendelanya kembali untuk melihatnya dengan jelas. Nyatanya, tak ada siapapun disana. Aku menghembuskan nafas berat lalu menutup jendelanya kembali.

Bercak-bercak darah telah mengubah warna depan mobil hampir seluruhnya. Juno membersihkannya terburu-terburu dengan kain basah. Tanpa sengaja, mata Juno menangkap sesuatu di balik kaca mobil. Sesuatu yang hanya duduk diam di kursi mobil. Juno terperanjat. Bola matanya tak berkedip. Tangannya tak lagi bekerja. Di kelabui rasa takut, dengan gerakan yang perlahan Juno membuka pintu depan mobil. Tak ada apapun di sana. Hanya sebuah boneka beruang yang bersandar di kursi belakang. Juno lega. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Sementara itu aku di dapur sedang menuangkan minuman. Wanita dengan wajah yang bersimbah darah menatap tajam ke arahku melalui spion saat mobil terhenti karena menabrak pembatas jalan membuat dadaku sesak. Aku menumpahkan minumanku. Aku menunduk. Mengatur nafasku. Rasanya seperti di teror oleh ingatanku sendiri.

**

Rafi membuka matanya karena terganggu oleh suara jendela yang terbanting-banting oleh hembusan angin yang kuat. Rafi berbalik menghadap jendela. Sebuah bayangan merayap melalui jendela yang setengah terbuka itu, lalu dari kegelapan muncul sebuah jejak kaki menuju ke arah Rafi. Mata Rafi membelalak lebar. Bibirnya bergetar. Kedua matanya terus mengikuti jejak kaki itu sampai menghilang di bawah tempat tidurnya.

Juno bangkit berdiri untuk meluruskan tulang punggungnya setelah lelah berjongkok membersihkan lampu depan langsung di sambut sesosok tubuh berdiri tegak dengan rambut tergerai di hadapannya yang membuatnya kaget setengah mati.

"Kau!" bentaknya saat menyadari kalau sosok yang berdiri di depannya itu aku. Dia menularkan kagetnya itu padaku karena nada suaranya yang agak tinggi.

"Kenapa, sih?" tanyaku heran meraba jantungku yang tiba-tiba berdegup kencang.

"Tolong ambilkan aku kain lap. Ini sudah terlalu kotor," suruhnya lalu melempar kain lap yang sudah memerah itu ke ember.

Aku bergerak saat telingaku menerima perintah.

Juno menunduk dengan menopangkan tangannya di kap mobil. Tiba-tiba dia mendapati sepasang kaki sedang berdiri di sisinya. Saat dia menoleh,"Bruuk!!" wajahnya terpental di kap mobil hingga ia tak sadarkan diri.

Aku kembali dari dapur dengan membawakan kain basah. Ketika melewati ruang keluarga, lampu yang berkedip-kedip di kamar anakku dengan pintu yang terbuka itu mencuri perhatianku. Karena merasa akan sedikit lama jika aku harus ke lantai atas terlebih dulu, aku mengabaikannya. Aku memilih pergi menemui Juno lebih dulu untuk menyelesaikan perintahnya dengan sempurna sebelum kembali ke kamar anakku untuk mematikan lampu sekalian menutup pintu kamarnya yang terbuka, pikirku.

Langkahku melambat saat tak menemukan suamiku di luar. Percikan darah yang masih mengalir di kap mobil membuatku berpikir, bukankah tadi sudah bersih?

Aku melihat ujung kaki Juno yang tersembunyi dari balik sisi mobil. Juno tampak seperti sedang telungkup di tanah dari cara ku melihat posisi kakinya itu. Tapi anehnya, kaki Juno sama sekali tak bergerak.

"Juno?" panggilku yang tengah ketakutan itu. "Juno? Kau kah itu?" panggilku lagi saat tak ada reaksi apapun dari Juno.

Seolah ada yang menarik kaki Juno menghilang di balik sisi mobil begitu panggilan keduaku bergema. Aku kesal merasa di permainkan lalu bergegas menuju sisi mobil ingin memarahinya, " Kau bercanda denganku?!"

Aku terperanjat. Kedua bolah mataku membelalak lebar. Tubuhku yang tiba-tiba melemah dan hampir tersungkur. Rasanya kedua kakiku sudah tak mampu menopang tubuhku. Seluruh tubuh Juno bersimbah darah dan kedua kaki dan tangannya dalam kadaan bengkok-bengkok. Kepala Juno terputar ke belakang. Tubuhnya hancur layaknya tubuh yang baru saja terinjak truk. Di sambut pemandangan yang mengerikan itu, aku memaksa kakiku berlari ke dalam meski beberapa kali hampir terjatuh.

Begitu sampai di dalam, dengan sigap aku menutup pintu dan terburu-buru menguncinya. Aku menyandarkan kepala dan tubuhku di pintu sambil menangis.

Keadaan di dalam rumah begitu gelap. Lampu kamar Rafi di lantai atas masih berkedip-kedip. Aku mengusapkan mataku yang basah. Aku mendekati tangga. Perlahan ku pijakkan kakiku di anak tangga satu persatu sementara mataku terus memantau pintu kamar Rafi yang terbuka. Dalam remang-remang, tampak olehku seseorang sedang dalam perjalanan menuju kamar Rafi. Menyadari itu, aku mempercepat langkahku berlari mengejar orang tersebut. Diapun berlari dalam sekejap menyusup ke kamar Rafi dan membanting pintu. Tubuhku hampir roboh karena lantai yang begitu licin saat meraih knop pintu kamar Rafi yang langsung membuka.

Aku berdiri tegak. Diam membisu menyaksikan Rafi yang duduk di sisi ranjangnya dalam keadaan membungkuk dengan menghadap jendela yang terbuka. Tidak ada yang terucap dari bibirku saat itu. Aku begitu kacau dan tegang. Perlahan aku mendekati Rafi yang sedang menunduk itu. Tiba-tiba langkahku terhenti saat Rafi mengangkat kepalanya. Tapi dia tak melihat ke arahku. Tatapan tajamnya mengarah ke jendela yang terbuka. Ia turun dari ranjang. Mengambil langkah pelan-pelan lurus menuju jendela.

Keningku berkerut heran dan takut, "Rafi?"bisikku.

Rafi berpegangan di bingkai jendela. Dia mulai mengangkat kakinya.

Menyadari ada yang janggal, aku berlari menjemput tubuh anakku yang sedang mencoba melompat dari jendela.

"Rafi!!" teriakku menyaksikan tubuh anakku melayang menjemput bumi. Kepalanya terbentur keras di sisi kolam renang yang mengubah air kolam itu menjadi merah.

Tidak banyak yang bisa kulakukan. Hanya tidak percaya saja melihat tubuh anakku mengapung di sana dalam keadaan tak bernyawa. Aku histeris.

Tiba-tiba angin yang begitu dingin meniup bagian belakang leherku. Aku bergidik lalu menegakkan kepalaku, berhenti dari raunganku. Perlahan aku memutar kepalaku perlahan. Sebelum mataku menerkam siapa yang sedang berada di belakangku, aku menemukan tubuhku melayang meninggalkan jendela lalu hinggap di tempat di mana kepala Rafi mendarat sebelumnya. Aku berkunang-kunang dan merasakan cairan-cairan mengalir dari otakku melalui celah-celah. Sebelum semuanya menjadi gelap, di sisa penglihatanku mataku menangkap bayangan aneh berdiri di depan jendela.

SELESAI.


Popular posts from this blog

SANG PENGHUNI Bagian 3 : JERITAN MALAM

Sama seperti kedua rumah sebelumnya, rumah nenekku juga rumah panggung Aceh yang sama seperti kedua rumah yang aku ceritakan sebelumnya. Rumah nenek sekarang hanya di tinggali oleh bibiku setelah kepergian nenek tujuh tahun yang lalu. Rumah inipun bersebalahan dengan rumahku. Memiliki bentuk yang sama dan ukuran yang sama, hanya saja rumah ini sedikit lebih bagus karena usianya memang jauh lebih muda daripada rumahku yang aku ceritakan sebelumnya, dibangun di akhir tahun delapan puluhan. Waktu kecil saya sering tidur di rumah ini bersama nenek. Saya suka rumah ini karena ini satu-satunya rumah yang jauh dari kata menyeramkan. Tidak ada aura-aura aneh yang menggeliat dan hawa-hawa yang sulit dijelaskan oleh akal sehat sama sekali tidak pernah aku rasakan. Tapi ada yang tak lazim dan cenderung mengganggu apa yang ada dibelakang rumah ini. Halaman belakang rumah yang sangat sempit langsung berbatasan dengan jalan yang membelah desa kami. Di ...

MAMA PULANG

Lantai kayu berderit. Suara langkahan kaki  mendekati kamar kami. "Ibu datang..." bisikku pada adik perempuanku yang masih melek itu. Wajahnya berkerut menyiratkan rasa takut yang teramat sangat. Ia menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Salah satu tangannya melingkari dadaku dan satunya lagi melilit lenganku dengan kuatnya. Nafasnya terdengar riuh tak beraturan. Degup jantung berdegub kencang dapat ku rasakan menggedor-gedor dinding dadanya. Seluruh tubuh bocah itu di banjiri keringat. Semuanya hening. Aku memasang pendengaranku lebih tajam mencoba menangkap detil-detil suara kecil yang berasal dari luar. Melalui celah di bawah daun pintu, mataku menangkap bayangan aneh yang tak bergerak sejak beberapa menit yang lalu. Seingatku sebelumnya tak ada bayangan apapun di sana. Tiba-tiba lampu di ruang keluarga mati dengan sendirinya melenyapkan bayangan tadi. Ini membuatku merinding. Nafas adikku yang bak angin badai itu terus meniup-ni...

RUANG TUNGGU

"Ibu Nadya?" Suara panggilan itu meruntuhkan lamunanku sejak tadi. Seorang perawat berperawakan tinggi, kurus dan yang pasti cantik sedang berdiri di hadapan kami. Istriku yang sedang duduk di sebelahku menyiratkan wajah takut bercampur sedih, menatapku seolah-olah memohon agar aku mengurungkan niatku. Perawat itu menjulurkan tangannya, meraih tangan istriku yang masih gemetar sejak tadi. Dengan penuh ragu, sambil mengelus perutnya, istriku perlahan bangkit dari kursinya. Matanya yang basah itu menunjukkan ingin dikasihani. Aku membuang pandanganku karena tidak tega berhadapan dengan sorot matanya saat ini. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding dengan perasaan lelah yang terus membantai pikiranku hari ini begitu pintu ruang operasi menutup. Pikirku, istriku akan baik-baik saja. Aku tidak ingin ini semakin membebani pikiranku. Lagipula ini bukan yang pertama kali. Aku seharusnya lebih tenang sekarang. Tapi entah kenapa, pemikiran buruk terus meneror pikiranku. ...