Skip to main content

SANG PENGHUNI Bagian 4 : KELUARGA GHAIB



Tidak ada yang tahu sejarahnya tentang tanah yang kami tinggali sekarang. Yang kami tahu, sebelumnya disini hanya semak-semak yang dibeli kakekku lalu dibangun sebuah rumah. Selebih itu tidak. Tapi belakangan aku merasa ada yang terusir dari sini setelah kami menempati daerah sini. Mereka yang terusirpun sekarang mendiami sisi bukit di seberang jalan. Kenapa mereka tidak pergi saja ke ujung bukit yang jauh dari hiruk pikuk manusia? Hanya menyebrang beberapa bukit kecil saja lalu mendiami daerah sana dengan tentram. Dulu aku pernah berpikir begitu. Tapi sekarang aku sadar kenapa beberapa makhluk tak kasat mata itu masih tetap tinggal di sekitar kami, seolah enggan untuk pergi. Ternyata di ujung bukit yang aku ceritakan itu terdapat makhluk hitam tinggi besar yang sudah lama menghuni wilayah itu. Kami menyebut bukit itu dengan sebutan Gle Nek Toeng. Mungkin makhluk itu tidak mau menerima penghuni baru.

Gle Nek Toeng punya riwayat yang cukup angker. Letaknya bertetangga dengan sebuah bukit kecil yang juga tak kalah angker, hanya dipisah oleh hamparan sawah. Banyak cerita-cerita seram yang berseliweran di masyarakat tentang suara perempuan menangis ketika menjelang magrib yang suka mengganggu orang-orang yang biasanya masih bekerja di sawah saat magrib. Bahkan penghuni-penghuni disana tak segan-segan menampakkan diri di siang hari. Bisa dikatakan dia adalah pemimpin paramakhluk ghaib disana. Makhluk bertubuh tinggi, hitam kelam. Untuk jenis seperti ini biasanya tersebar di banyak tempat angker sebagai pemipin. Kami menyebutnya Raja Itam (Raja Hitam).

Pernah saya mendengar cerita dari salah seorang warga kampong saya. Dulu pernah ada seorang pria yang memberanikan diri untuk bermalam di sawahnya untuk menjaga padi yang baru dipanen. Karena proses pembersihan atau penganginan padinya belum selesai, otomatis padinya tidak bisa dibawa pulang dulu sampai semuanya beres. Bermalamlah orang tersebut disana sendirian. Ia membangun tenda-tendaan seadaanya dari kain terpal untuk menghalangi sambaran angin malam. Sekiranya waktu baru menunjukkan jam Sepuluh malam, hawa-hawa aneh mulai menggertak. Orang tersebut awalnya merasa biasa saja dan memilih tidak peduli. Ia mencoba memejamkan mata di tengah keinginannya untuk segera pulang atau bertahan sampai pagi menjelang. Tiba-tiba saja seperti ada seseorang menarik jempol kakinya dalam sekari tarikan yang kuat sekali. Dia tersetak. Nafasnya tertahan. Jantungnya memburu kencang seolah mau keluar menembus dadanya. Tanpa pikir panjang dia bergegas mengayun langkah panjang meninggalkan semua yang tak ingin ditinggalkannya.

Hanya makhluk-makhluk halus bangsawan yang bersemanyam disini. Mereka yang lebih kuat dan yang paling ditakuti oleh kaumnya yang lain. Mungkin itu yang membuat kenapa para penunggu yang tinggal disekitar tempat saya tinggal lebih memilih menetap berdekatan dengan kami.

Mereka yang tinggal disekitar kami sangat mengenal kami dan tidak pernah mengganggu kami.

Pernah suatu hari ibu saya membuang perut dan bulu ayam ke semak-semak di kaki bukit seberang jalan. Ini juga bagian dari kebaikan kami kepada biawak-biawak yang hidup di kawasan itu. Biasanya kami membuang segala sesuatu disini, entah itu kepala ikan, bangkai dan sebagainya tanpa menimbulkan bau yang menyengat karena semua yang kami lempar ke semak-semak itu sudah pasti akan disambar kumpulan biawak yang kelaparan. Setelah melempar perut dan bulu ayam ke semak-semak, baru saja ibu berbalik tiba-tiba samar-samar terdengar suara seperti suara manusia berbisik-bisik sambil menyebut nama ibuku.

Ibuku bergidik lalu mepercepat langkahnya.

Peristiwa yang menyeramkan ini juga pernah dialami adik bungsuku walaupun bukan ditempat yang sama tapi masih disekitaran itu saja. Saat menjelang magrib ketika dia mau menjemput beberapa ekor lembu yang masih berkeliaran di tepian hutan seberang jalan, dia juga mendengar suara bisik-bisik yang menyebutkan namanya. Para makhluk tak kasat mata itu seperti sedang membicarakan adikku.

Menyadari tak ada siapapun disana, adikku bergegas lari bertelanjang kaki setelah kedua belah sandalnya terlempar kesana kemari.

Peristiwa lain pernah dialami bibi saya. Semua dimulai saat perutnya terasa melilit menjelang subuh. Ia memberanikan diri untuk pergi sendirian ke WC umum yang hanya berjarak Lima Puluh meter dari rumah. WC umum ini dulunya cukup angker karena memang posisinya di sisi hutan dimana semua makhluk-makhluk astral berkeliaran. Berbekal lampu minyak kecil sebagai penerangan sudah cukup sebagai penunjuk jalan. Dalam perjalanan, bibi saya mendengar beberapa langkah menyusul di belakangnya. Perasaannya sudah tak enak tapi ia berusaha untuk tidak melihat ke belakang. Tunggu saja sampai dia meniup lampu minyakku, begitulah gumamnya dalam hati dengan sok berani. Perlahan langkah-langkah yang mengikutinya itu menghilang dengan sendirinya. Mungkin saja mereka berbalik arah atau mungkin mereka berbelok ke arah yang lain.

Pernah juga salah seorang warga yang merasa diganggu saat sedang buang hajat di Wc umum angker itu. Ketika dia sedang berada di dalam WC, tampak olehnya bayangan orang dari luar yang tampak mondar mandir di depan pintu. Tidak terdengar suara langkah kaki, atau suara-suara lain yang biasa ditimbulkan oleh manusia, hanya bayangan saja yang takpak persis seperti bayangan manusia.

**
Setiap magrib di jalan depan rumah saya, ada satu sosok yang selalu melintas disana. Biasanya dia terlihat seperti kilat tapi sangat jelas sekali. Bibi dan ibu saya pernah menyaksikan ini. Bahkan ibu saya bisa menjelaskan ciri-ciri sosok tersebut. Dia seorang perempuan tidak terlalu muda, berambut panjang sampai ke punggung, kedua tangannya seperti menguyuh-ngayuh ke depan dengan kecepatan tinggi, sementara kedua kakinya juga ikut mengayuh cepat sekali namun tidak menyentuh tanah.

Entah dia pulang dari suatu tempat atau memang sedang pergi ke suatu tempat. Kelihatannya ini memang rutinitasnya setiap magrib.


Kehidupan lain yang tak kasat mata yang hidup bertetangga dengan kami mungkin memiliki cerita sendiri. Mungkin saja mereka adalah keluarga yang hidup layaknya manusia seperti kami yang sehari-harinya berkutat sekitar mencari makan, mengobrol dengan tetangga dan kumpul-kumpul atau semacamnya. Bisa kubayangkan kehidupan mereka seperti itu. Ternyata mereka cukup kenal dengan kami dan mungkin sering membicarakan kami. Andaikan mereka kasat mata, rasanya cukup asik memiliki tetangga seperti mereka.


Popular posts from this blog

SANG PENGHUNI Bagian 3 : JERITAN MALAM

Sama seperti kedua rumah sebelumnya, rumah nenekku juga rumah panggung Aceh yang sama seperti kedua rumah yang aku ceritakan sebelumnya. Rumah nenek sekarang hanya di tinggali oleh bibiku setelah kepergian nenek tujuh tahun yang lalu. Rumah inipun bersebalahan dengan rumahku. Memiliki bentuk yang sama dan ukuran yang sama, hanya saja rumah ini sedikit lebih bagus karena usianya memang jauh lebih muda daripada rumahku yang aku ceritakan sebelumnya, dibangun di akhir tahun delapan puluhan. Waktu kecil saya sering tidur di rumah ini bersama nenek. Saya suka rumah ini karena ini satu-satunya rumah yang jauh dari kata menyeramkan. Tidak ada aura-aura aneh yang menggeliat dan hawa-hawa yang sulit dijelaskan oleh akal sehat sama sekali tidak pernah aku rasakan. Tapi ada yang tak lazim dan cenderung mengganggu apa yang ada dibelakang rumah ini. Halaman belakang rumah yang sangat sempit langsung berbatasan dengan jalan yang membelah desa kami. Di ...

MAMA PULANG

Lantai kayu berderit. Suara langkahan kaki  mendekati kamar kami. "Ibu datang..." bisikku pada adik perempuanku yang masih melek itu. Wajahnya berkerut menyiratkan rasa takut yang teramat sangat. Ia menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Salah satu tangannya melingkari dadaku dan satunya lagi melilit lenganku dengan kuatnya. Nafasnya terdengar riuh tak beraturan. Degup jantung berdegub kencang dapat ku rasakan menggedor-gedor dinding dadanya. Seluruh tubuh bocah itu di banjiri keringat. Semuanya hening. Aku memasang pendengaranku lebih tajam mencoba menangkap detil-detil suara kecil yang berasal dari luar. Melalui celah di bawah daun pintu, mataku menangkap bayangan aneh yang tak bergerak sejak beberapa menit yang lalu. Seingatku sebelumnya tak ada bayangan apapun di sana. Tiba-tiba lampu di ruang keluarga mati dengan sendirinya melenyapkan bayangan tadi. Ini membuatku merinding. Nafas adikku yang bak angin badai itu terus meniup-ni...

RUANG TUNGGU

"Ibu Nadya?" Suara panggilan itu meruntuhkan lamunanku sejak tadi. Seorang perawat berperawakan tinggi, kurus dan yang pasti cantik sedang berdiri di hadapan kami. Istriku yang sedang duduk di sebelahku menyiratkan wajah takut bercampur sedih, menatapku seolah-olah memohon agar aku mengurungkan niatku. Perawat itu menjulurkan tangannya, meraih tangan istriku yang masih gemetar sejak tadi. Dengan penuh ragu, sambil mengelus perutnya, istriku perlahan bangkit dari kursinya. Matanya yang basah itu menunjukkan ingin dikasihani. Aku membuang pandanganku karena tidak tega berhadapan dengan sorot matanya saat ini. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding dengan perasaan lelah yang terus membantai pikiranku hari ini begitu pintu ruang operasi menutup. Pikirku, istriku akan baik-baik saja. Aku tidak ingin ini semakin membebani pikiranku. Lagipula ini bukan yang pertama kali. Aku seharusnya lebih tenang sekarang. Tapi entah kenapa, pemikiran buruk terus meneror pikiranku. ...