Skip to main content

MAMA PULANG



Lantai kayu berderit. Suara langkahan kaki 
mendekati kamar kami.

"Ibu datang..." bisikku pada adik perempuanku yang masih melek itu. Wajahnya berkerut menyiratkan rasa takut yang teramat sangat. Ia menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Salah satu tangannya melingkari dadaku dan satunya lagi melilit lenganku dengan kuatnya. Nafasnya terdengar riuh tak beraturan. Degup jantung berdegub kencang dapat ku rasakan menggedor-gedor dinding dadanya. Seluruh tubuh bocah itu di banjiri keringat.

Semuanya hening. Aku memasang pendengaranku lebih tajam mencoba menangkap detil-detil suara kecil yang berasal dari luar.

Melalui celah di bawah daun pintu, mataku menangkap bayangan aneh yang tak bergerak sejak beberapa menit yang lalu. Seingatku sebelumnya tak ada bayangan apapun di sana.

Tiba-tiba lampu di ruang keluarga mati dengan sendirinya melenyapkan bayangan tadi. Ini membuatku merinding. Nafas adikku yang bak angin badai itu terus meniup-niup dinding leherku. Hangat, tapi tubuhku di hinggapi hawa dingin seakan-akan membuatku beku.

"Kau tidur?" tanyaku sambil menoleh ke adikku. Dia menggeleng. Matanya di penuhi ketakutan.

Lampu di ruang keluarga kembali menyala. Kini bayangan yang tadi berada di bawah daun pintu tak lagi bertempat di sana. Aku menelan ludahku hingga kerongkonganku naik turun. Aku bangkit dari pembaringanku. Adikku menarik lenganku mengisyaratkanku untuk merebahkan tubuhku kembali. Aku menoleh ke arahnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tunggu sebentar, ya?"

Ia pun bangkit dari tidurnya dan duduk di sebelahku.

Aku menuruni ranjang.

"Kau di sini saja!" perintahku. Adikku mengangguk penuh ragu.

Aku mengendap-ngendap menuju pintu lalu menempelkan telingaku ke pintu. Ku perhatikan selama beberapa saat, tidak ada suara aneh yang menerobos indra dengarku. Tapi hawa dingin menangkap telapak kakiku karena tiupan angin yang berkerumunan melewati celah di bawah daun pintu. Kedua kakiku saling menggosok-gosok satu sama lain.

Aku menoleh ke arah adikku yang tegang menyaksikanku. Ia turun dari ranjang untuk menyalakan lampu lalu kembali mendaratkan pantatnya di ranjang.

Aku memutar knop pintu. Ruang keluarga begitu sepi. Seekor kupu-kupu bermain-main di sekitar lampu.

Aku menutup pintunya kembali dan kembali ke ranjang menepikan tubuhku di sisi tubuh adikku yang dingin.

"Kita tidur?" tanyaku.
"Jangan matikan lampunya," pintanya. Aku mengangguk lalu membantunya berbaring.

Sebelum aku ikut merebahkan tubuhku, mataku kembali menangkap bayangan bergerak di celah di bawah daun pintu. Seolah-olah bayangan itu semakin dan semakin mendekati pintu.

Aku menoleh ke wajah adikku yang sudah tertidur lelap. Aku memberanikan diri kembali turun dari ranjang. Dengan sigap aku mengesampingkan rasa takutku untuk membuka pintu. Masih terlihat sama seperti tadi, ruang keluarga yang tampak begitu sepi dengan sebuah lampu kecil yang menyala di dekat televisi. Tanpa sengaja walau tidak begitu jelas, mataku menemukan sesuatu tergeletak di sisi lampu. Aku mendekatinya. Itu kupu-kupu yang kulihat tadi bermain-main di sekitar lampu. Tapi sekarang keadaannya sudah tak bernyawa.

Aku tak peduli. Aku berbalik menuju kamarku. Tapi anehnya, pintu kamar malah tak mampu membuka meski aku telah berusaha. Seingatku, aku bahkan tak menutupnya tadi.

Aku mulai panik dan menggedor-gedornya seraya memanggil-manggil adikku. Tapi tak ada sahutan apapun dari dalam.

Semua menjadi sangat gelap saat lampu di ruang keluarga mati dengan sendirinya. Aku semakin diselimuti rasa takut yang luar biasa. Tak berhenti aku menggedor-gedor pintu sambil memanggil adikku sekeras mungkin.

Sebuah bayangan dari dalam kamar di celah di bawah pintu menghentikan teriakanku. Aku memperhatikan bayangan itu yang ku kira adikku yang sedang berdiri di depan pintu.

"Mira? Kaukah itu?" tanyaku yang di sambut gelap memenuhi kamarku saat lampunya padam.

Aku kaget.

"Mira?!" panggilku lagi. Lampu kamarku kembali menyala di susul lampu di ruang keluarga yang ikut menyala dan pintu kamarku membuka dengan sendirinya.

Tubuhku langsung melesat ke kamarku bagaikan peluru. Tapi, kepanikanku bertambah dua kali lipat saat melihat adikku tak berada di tempat tidurnya.

Lampu kamarku kembali padam. Aku bergegas mengayun langkahku menuju pintu kamarku yang sudah terkunci dengan sendirinya. Melalui celah di bawah daun pintu, aku mendapati sebuah bayangan pergi meninggalkan kamarku. Tubuhku bergetar ketakutan.


SELESAI.

Popular posts from this blog

SANG PENGHUNI Bagian 3 : JERITAN MALAM

Sama seperti kedua rumah sebelumnya, rumah nenekku juga rumah panggung Aceh yang sama seperti kedua rumah yang aku ceritakan sebelumnya. Rumah nenek sekarang hanya di tinggali oleh bibiku setelah kepergian nenek tujuh tahun yang lalu. Rumah inipun bersebalahan dengan rumahku. Memiliki bentuk yang sama dan ukuran yang sama, hanya saja rumah ini sedikit lebih bagus karena usianya memang jauh lebih muda daripada rumahku yang aku ceritakan sebelumnya, dibangun di akhir tahun delapan puluhan. Waktu kecil saya sering tidur di rumah ini bersama nenek. Saya suka rumah ini karena ini satu-satunya rumah yang jauh dari kata menyeramkan. Tidak ada aura-aura aneh yang menggeliat dan hawa-hawa yang sulit dijelaskan oleh akal sehat sama sekali tidak pernah aku rasakan. Tapi ada yang tak lazim dan cenderung mengganggu apa yang ada dibelakang rumah ini. Halaman belakang rumah yang sangat sempit langsung berbatasan dengan jalan yang membelah desa kami. Di ...

RUANG TUNGGU

"Ibu Nadya?" Suara panggilan itu meruntuhkan lamunanku sejak tadi. Seorang perawat berperawakan tinggi, kurus dan yang pasti cantik sedang berdiri di hadapan kami. Istriku yang sedang duduk di sebelahku menyiratkan wajah takut bercampur sedih, menatapku seolah-olah memohon agar aku mengurungkan niatku. Perawat itu menjulurkan tangannya, meraih tangan istriku yang masih gemetar sejak tadi. Dengan penuh ragu, sambil mengelus perutnya, istriku perlahan bangkit dari kursinya. Matanya yang basah itu menunjukkan ingin dikasihani. Aku membuang pandanganku karena tidak tega berhadapan dengan sorot matanya saat ini. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding dengan perasaan lelah yang terus membantai pikiranku hari ini begitu pintu ruang operasi menutup. Pikirku, istriku akan baik-baik saja. Aku tidak ingin ini semakin membebani pikiranku. Lagipula ini bukan yang pertama kali. Aku seharusnya lebih tenang sekarang. Tapi entah kenapa, pemikiran buruk terus meneror pikiranku. ...