Skip to main content

KAPAN NIKAH ?



          



  Aku hanya menyantap beberapa makanan kecil saja. Rasanya aneh saja ketika mengahadiri undangan pesta walimah lantas tidak makan apapun. Sebuah dosa besar menurut saya. Lagipula rugi besar kalau tidak makan mengingat semua ini gratis. Tidak, semua ini tidak gratis. Dibanding dengan semua tumpukan makanan yang sanggup untuk dimakan, maka tidak sebanding dengan harga kado yang aku gotong kemari. Berbeda kasusnya dengan ibu-ibu yang datang kemari hanya berbekal amplop isi Sepuluh Ribu atau bahkan tanpa isi sama sekali. Gratis tis tis tis. Sudahlah, masalah itu tidak perlu dibahas. Memang jiwa pelit selalu ingin tampil eksis. Ikhlaskan.. ikhlas.
Tapi akhir-akhir ini lebih merasa tidak nyaman ketika menghadiri pesta perkawinan, terlebih pengantinnya adalah temanmu sendiri. Ada perasaan minder, malu dan segala hal yang berdekatan dengan perasaan-perasaan semacam itu. Ketika ada seseorang mendekatimu untuk mengajakmu bicara, seolah kamu tahu topik apa yang akan dibahas “kamu kapan ?”. Masalahnya diusia yang hampir kepala tiga ini sudah tak kreatif lagi untuk mengganti topik percakapan tersebut disaat pertanyaan maut itu melayang dari mulut seseorang. Rasanya sesak seperti pasir yang memenuhi rongga dada. Benar- benar sebuah cobaan yang berat.
            Aku pulih dari lamunan kosongku saat sebuah suara mengajakku berfoto. Semua wajah yang berusaha tampak ceria yang katanya ikut bahagia. Entah itu benar atau hanya pura-pura saja. Tapi aku, aku memang bahagia melihat teman-temanku bahagia. Yang tidak bahagianya aku yang masih khawatir tentang kapan saat difoto aku berada ditengah dengan menggandeng seorang wanita yang saat itu sudah bias kupanggil ‘Dek’.
            Apa kamu pernah membayangkan tentang kehidupanmu setelah pernikahan ? jujur aku pernah. Bahkan mungkin terlalu sering. Sementara dalam lubuk hati yang paling dalam juga terbesit sedikit bahwa semua itu tak akan pernah terjadi, lalu dalam sekejap itu pula aku berusaha melawan kembali semua kemungkinan-kemungkinan yang sama sekali tidak ku inginkan itu. Dan hal seperti itu selalu terjadi. Rasanya nikmat sekali membayangkan keindahan-keindahan itu, tapi terlalu pengecut untuk membuat semua itu terjadi. Bukannya apa-apa, aku takut gagal. Aku takut tidak mampu. Aku tidak pintar mengelola diriku sendiri apalagi harus mengelola keluarga. Inilah pikiran-pikiran jahat yang terus menghantui.
            Aku tahu bahkan sangat tahu kalau Tuhan sudah mengatur semuanya. Menikahlah, Tuhan yang akan menanggung rejekimu. Seorang teman beberapa tahun yang lalu pernah mengatakan begitu padaku beberapa hari sebelum ia menikah dengan tujuan agar aku segera mengikuti jejaknya. Aku yakin sekali dengan ucapannya bahkan aku sudah lebih tahu sebelum dia mengatakannya. Tapi bagaimana mengatakannya, sumpah aku sangat bingung. Masalahnya, ia menajalankan bisnis haram setelah menikah. Sabu-sabu. Uangnya memang sangat banyak. Banyak sekali. Alasannya dia bingung bagaimana harus mencukupi semua kebutuhan rumah tangga. Kebutuhan mobil, rumah mewah Tiga lantai lengkap dengan kolam renangnya dan segala hal tidak penting lainnya, jalan-jalan keluar negri mungkin juga itu termasuk. Melihat caranya yang lumayan beresiko tinggi untuk dunia dan Akhirat membuatku agak sedikit terpengaruh untuk tidak mengikuti jejaknya. Oke, cari kerja dulu, mantap lahir batin, jangan Cuma modal emas sekian manyam itupun ditanggung orang tua lalu siap pasang badan untuk melamar anak gadis orang. “Menikahlah, Tuhan akan menanggung rejekimu” seharusnya dia tidak mengatakan itu. Orang bisa salah persepsi.
            “Kamu kapan nikah ?”
            Nyeletuk orang tua yang tak punya adab. Dia tersenyum menggodaku. Aku tahu dia bercanda.  Tapi hati sudah tercabik duluan.  Itu pertanyaan Seribu derajat celcius. Mendidih sampai ke ulu hati lalu mengubahmu menjadi partikel-pertikel kecil dan lenyap ke udara. Untung saja orang lain tidak mendengarnya, kalau tidak banyak pertanyaan sejenis beranak pinak yang akan  menyerang secara membabi buta sementara aku hanya bagai tentara yang kehabisan peluru dalam kepungan musuh.
            “Bagaimana kalau masalah itu biar jadi urusanku dengan Tuhan ?. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan itu sementara hanya Tuhan yang tahu tentang itu dan Dia masih merahasiakannya dariku ? Baru saja beberapa detik waktumu terbuang untuk sesuatu yang percuma dan kau masih senyam senyum seperti orang bodoh delapan belas kali tinggal kelas. Kau benar-benar ingin jawaban dariku atau kau hanya sekedar bertanya hanya untuk menghibur dirimu sendiri ? sepertinya akhir-akhir kamu kelebihan nutrisi sehingga memberimu energi lebih untuk mengurus masalah-masalah ini yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu !” jawabku dalam hati. Lantas ia berlalu melihat ekspresiku seperti orang kejatuhan makanan potongan terakhir dari mulutnya. Semoga dia dan kaum-kaum sejenisnya akan diblender di Neraka bersama Firaun dan para pengikutnya.
            Fitrah manusia nyatanya memang seperti itu. Bertanya tentang sesuatu yang tidak penting sama sekali hanya untuk menghibur diri dengan melihat lawannya kalang kabut mencari jawaban itu sudah cukup memberi kepuasan. Mungkin sebagian ingin mengejek atau menyindir atau apapun sinonim dari semua hal itu. Mudah-mudahan mereka orang-orang pertama yang diangkut Dajjal menjelang kiamat. Jika perang dunia ketiga terjadi, orang-orang semacam itu wajib dibumi hanguskan dan tolong diputuskan garis keturunannya. Bibit-bibit seperti itu hanya akan membawa kehancuran bagi ummat manusia. Mungkin mulut-mulut mereka penyebab perang dunia ketiga terjadi. Mudah-mudahan saja benar begitu supaya ada alasan kuat untuk memporak-porandakan mereka.
            Seseorang mengulurkan tangannya padaku seperti sedang meminta sesuatu “ Kamu kapan nikah ?”
            Aku tertegun. Suaraku tertahan di kerongkongan. Sulit sekali mencari jawaban yang pantas kecuali kepalan tangan yang hampir siap mendarat di wajahnya. “Kamu kapan nikah !”. suara terdengar bernada tinggi kali ini dan semakin tinggi. Orang-orang mulai memalingkan wajahnya ke arahku. Tiba-tiba sayup-sayup suara yang lain merongrong masuk ke lobang telingaku membuyarkan suara yang sebelumnya. “Hei ! piring kotornya !!”.
            Aku terkejut, lebih tepatnya kembali sadar dari lamunanku. Baru saja aku meninggalkan dunia dimana hanya aku seorang saja disana. Dunia yang membiarkan aku melihat apa yang tidak ingin aku lihat dan membiarkan aku mendengar apa yang tidak ingin aku dengar.
            Dia mendapatkan piring kotornya untuk dicuci dan berlalu sambil mengerutkan keningnya. Semua menjadi normal kembali termasuk orang-orang yang melihatku ku tadi kembali sibuk dengan piring dan sendoknya masing-masing.
            Aku menarik nafas panjang lalu membuangnya pelan-pelan. Suara piring dan sendok yang sedang baku hantam sungguh tidak nyaman di telinga. Ku perhatikan wajah-wajah itu yang mulutnya di penuhi makanan dan kerongkongan yang naik turun. Bagaimana ketika nasi putih hampir bersentuhan dengan lipstick meski bibir sudah mencoba menghindar tapi usahanya tidak selalu berhasil dengan sempurna. Juga keringat yang mengembun di batang hidungnya. Bukan pemandangan yang asik. Benarkah orang-orang ini sunguh ingin tahu kapan aku akan menikah ? aku membatin dengan prasangka-prasangka yang sulit untuk kujelaskan.
            Jika orang-orang diluar negri selalu ingin tahu dengan kemajuan orang lain dalam bidang usaha, teknologi dan ide-ide baru dalam setiap bidang pekerjaan dikarenakan mungkin mereka ingin bermitra dalam pekerjaan tersebut atau untuk mencari koneksi. Tapi di negeri kita tercinta ini orang-orang lebih tertarik dengan masalah pribadi orang lain, tentu saja dalam hal ini masalah ‘Kapan Nikah’ juga termasuk. Positif thinking saja mungkin saja mereka ingin bermitra dalam rumah tangga kita entah seperti apa itu mekanismenya. Membayangkannya saja cukup menyeramkan.
            Sepasang pengantin di atas pelaminan terus saja sumringah. Klak klik klak klik. Mungkin garis senyum di pipi mereka besok akan Nampak jelas. Produk kecantikan anti aging tak kan mampu menanganinya. Banyak sanak saudara dan kerabat dari berbagai daerah bergilir naik ke pelaminan untuk melakukan satu kali take terus pergi. Upload. Ya begitulah siklus semua orang saat ini.
            Selepas matahari tergelinjir, senyum kedua pengantin itu nampak sudah kurang ikhlas. Mungkin lelah. Atau mungkin karena dipaksa senyum oleh beberapa kamera foto dari orang-orang yang kurang begitu dikenalnya. Bibirnya lancip menembus pipi yang cabi. Garis senyum di pipi Nampak lebih jelas lagi, tapi mata tidak tampak ikut tersenyum seperti beberapa waktu yang lalu. Melelahkan juga rupanya harus tersenyum sepanjang hari dan bermanis-manis dengan orang yang tidak kita kenal. Tapi tidak masalah juga mengingat banyak yang bisa di upload besok. Ya, tentu saja. Poin pentingnya kan disitu. Upload. Tunjukkan mereka kalau kamu sudah menikah dan bahagia.
            Kerongkonganku jadi gatal rasanya mungkin karena membayangkan hal-hal yang menyebalkan ini, atau mungkin saja normalnya karena kadar minyak dalam makanan yang aku santap tadi terlalu berlebihan. Ya ampun kolestrol kembali menyumbat lalu lintas darah dalam urat nadiku diikuti darah tinggi yang hampir kumat sejak tadi. Dan masalah yang kedua ini benar-benar bukan karena makanan.
 Hari sudah hampir sore, azan Ashar sudah berlalu Tiga Puluh menit yang lalu. Kedua pengantin sudah mengungsi dari pelaminan. Di dalam, keduanya sedang menyekop riasan di wajahnya yang tebalnya entah berapa centimeter. Si pengantin pria terlihat keluar dan sepertinya sedang menuju ke arahku.
            “Boleh minum?” ucapnya sumringah sekaligus wajahnya juga terlihat lelah. Dia melepaskan pantatnya disebelahku di sebuah kursi berbahan plastik yang tangguh dihinggapi entah berapa puluh pantat berbeda sejak pagi tadi.
            “Capek” ucapnya lalu satu tegukan jus semangka meluncur ke tenggorokannya.
            “Kalau capek ngapain nikah?” candaku menjawabnya. Kedua kami tertawa.
            Lalu kami larut dalam pembicaraan dengan seribu topik yang terus bergonta ganti. Sesekali kami tertawa sangat keras sekali hingga mengalihkan perhatian orang-orang. Membicarakan masa-masa sekolah, mantan pacar dan segala hal yang istrinya mungkin tidak boleh tahu. Sementara ia terus membicarakan hal itu, aku sedang bersiap diserang beberapa pertanyaan yang sangat sulit kutemukan jawabannya. Tapi, dia tidak pernah melampaui batas itu.
            Orang-orang tidak perlu bertanya kapan aku akan menikah karena aku akan benar-benar mewujudkan itu ketika aku sudah mampu. Lagipula siapa yang tidak ingin menikah. Siapa yang tidak ingin hidup dengan pasangan. Buang-buang waktu dan energi saja untuk suatu pertanyaan yang tidak begitu penting jawabannya. Ah, mungkin dia sudah lama tidak mencicipi ‘sie leumo’ atau mungkin sudah tidak sabar mencoba baju barunya yang khusus akan dipakai saat ke pesta. Menyebalkan memang.
            Sama sekali tidak menyangka di usia ini aku akan segalau ini tentang jodoh. Ketika semua teman-temanku satu persatu mulai melepas masa lajangnya, sementara aku, bayang-bayang pernikahanpun belum terlihat ujung tunasnya.  Aku tidak ingin gegabah dalam hal menikah apalagi karena hanya sekedar mengikuti trend menikah muda.  Sebenarnya usiaku hampir mencapai Tiga Puluh dan itu sudah tidak muda lagi.
            Cukup seringlah dijadikan bahan candaan orang-orang tentang kesendirian aku di usia saat ini. Ada yang hanya sekedar bertanya basa-basa, ada yang iseng-iseng menawarkan seseorang kepada saya lengkap dengan spesifikasinya. Pokoknya pemasarannya sangat luar biasa. Aku yakin dia sedang mencari suatu keuntungan. Biasalah, aku cukup tahu dalam masyarakat, aku biasa menyebutnya agen jodoh, seseorang yang mencarikan jodoh wanita untuk seorang pria dan kalau si Pria tersebut berhasil menikahi wanita tersebut, maka yang berjasa atas berhasilnya hubungan tersebut sampai ke pelaminan akan mendapatkan sedikit pemasukan buat tambah-tambah uang belanja. Satu manyam emas. Tapi yang harus di ingat, jika sesuatu terjadi dalam pernikahan tersebut misalkan ada spesifikasi yang tidak sesuai atau semacamnya maka pihak yang mengenalkan pertama kali tidak ikut bertanggung jawab. Biasanya pihak yang pertama kali mengenalkan akan melakukan segala cara agar pernikahan itu berhasil. Tentu saja mereka harus berbohong. Misalkan mengenalkan pria antah berantah yang tidak jelas sifatnya dengan kepada seorang wanita baik-baik sebagai seorang bak bintang Bollywood dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dibuat-buat sedikit agar tidak mencolok. Tentu saja kekurangan yang dibuat-buat ini tidak akan memberi pengaruh apapun terhadap kelebihan yang dimiliknya. Kelebihannya pun hasil karangan belaka. Intinya pernikahan itu harus terjadi. Biadap memang. Ya Allah, aku tidak ingin terjebak ke dalam sistem seperti itu.

            Aku pamit pergi sebelum pelaminan dibongkar. Tampak tamu-tamu pun sudah tidak seramai tadi. Aku bubuhi doa di setiap ayunan langkah. Ya Tuhan, siapapun jodohku, dekatkanlah ia denganku, dan jikapun aku harus hidup tanpa ditemani dan menenmani seseorang sepanjang hidupku, tidak ada yang bisa aku lakukan.


***






           
                                                                                                        

Popular posts from this blog

SANG PENGHUNI Bagian 3 : JERITAN MALAM

Sama seperti kedua rumah sebelumnya, rumah nenekku juga rumah panggung Aceh yang sama seperti kedua rumah yang aku ceritakan sebelumnya. Rumah nenek sekarang hanya di tinggali oleh bibiku setelah kepergian nenek tujuh tahun yang lalu. Rumah inipun bersebalahan dengan rumahku. Memiliki bentuk yang sama dan ukuran yang sama, hanya saja rumah ini sedikit lebih bagus karena usianya memang jauh lebih muda daripada rumahku yang aku ceritakan sebelumnya, dibangun di akhir tahun delapan puluhan. Waktu kecil saya sering tidur di rumah ini bersama nenek. Saya suka rumah ini karena ini satu-satunya rumah yang jauh dari kata menyeramkan. Tidak ada aura-aura aneh yang menggeliat dan hawa-hawa yang sulit dijelaskan oleh akal sehat sama sekali tidak pernah aku rasakan. Tapi ada yang tak lazim dan cenderung mengganggu apa yang ada dibelakang rumah ini. Halaman belakang rumah yang sangat sempit langsung berbatasan dengan jalan yang membelah desa kami. Di ...

MAMA PULANG

Lantai kayu berderit. Suara langkahan kaki  mendekati kamar kami. "Ibu datang..." bisikku pada adik perempuanku yang masih melek itu. Wajahnya berkerut menyiratkan rasa takut yang teramat sangat. Ia menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Salah satu tangannya melingkari dadaku dan satunya lagi melilit lenganku dengan kuatnya. Nafasnya terdengar riuh tak beraturan. Degup jantung berdegub kencang dapat ku rasakan menggedor-gedor dinding dadanya. Seluruh tubuh bocah itu di banjiri keringat. Semuanya hening. Aku memasang pendengaranku lebih tajam mencoba menangkap detil-detil suara kecil yang berasal dari luar. Melalui celah di bawah daun pintu, mataku menangkap bayangan aneh yang tak bergerak sejak beberapa menit yang lalu. Seingatku sebelumnya tak ada bayangan apapun di sana. Tiba-tiba lampu di ruang keluarga mati dengan sendirinya melenyapkan bayangan tadi. Ini membuatku merinding. Nafas adikku yang bak angin badai itu terus meniup-ni...

RUANG TUNGGU

"Ibu Nadya?" Suara panggilan itu meruntuhkan lamunanku sejak tadi. Seorang perawat berperawakan tinggi, kurus dan yang pasti cantik sedang berdiri di hadapan kami. Istriku yang sedang duduk di sebelahku menyiratkan wajah takut bercampur sedih, menatapku seolah-olah memohon agar aku mengurungkan niatku. Perawat itu menjulurkan tangannya, meraih tangan istriku yang masih gemetar sejak tadi. Dengan penuh ragu, sambil mengelus perutnya, istriku perlahan bangkit dari kursinya. Matanya yang basah itu menunjukkan ingin dikasihani. Aku membuang pandanganku karena tidak tega berhadapan dengan sorot matanya saat ini. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding dengan perasaan lelah yang terus membantai pikiranku hari ini begitu pintu ruang operasi menutup. Pikirku, istriku akan baik-baik saja. Aku tidak ingin ini semakin membebani pikiranku. Lagipula ini bukan yang pertama kali. Aku seharusnya lebih tenang sekarang. Tapi entah kenapa, pemikiran buruk terus meneror pikiranku. ...